Sunday, March 08, 2009

Merayakan Hari Perempuan Internasional

0




“Bersatulah kaum perempuan sedunia untuk memperjuangkan persamaan hak perempuan dan anak-anak untuk pembebasan nasional dan perdamaian”
Deklarasi Kopenhagen


Dalam gerakan perempuan internasional, tanggal 8 Maret dirayakan sebagai hari perempuan internasional. Perayaan ini tidak lepas dari usaha untuk memperingati keberhasilan perempuan di bidang ekonomi, sosial dan politik. Melalui perayaan ini, perempuan di seluruh dunia, dari berbagai etnik, agama, budaya, politik dan ekonomi merayakan hari tersebut dan meningkatkan solidaritas terhadap perjuangan perempuan di seluruh dunia. Barangkali ini adalah momen yang tepat untuk merayakan dan memperkuat persaudarian perempuan (sisterhood).

Hingga saat ini, perempuan masih menghadapi berbagai persoalan akibat ketidakadilan gender, misalnya diskriminasi, kekerasan seksual dan perempuan adalah pihak yang menghadapi kondisi paling berat karena faktor kemiskinan. Kesadaran terhadap ketertindasan kaum perempuan ini kemudian muncul di berbagai daerah. Misalnya saja di Indonesia, kita mengenal Kartini, dimana melalui tulisan-tulisannya Kartini mengemukakan pendapatnya tentang emansipasi perempuan,

Sejarah Hari Perempuan Internasional
Ide peringatan hari perempuan sedunia, sebenarnya telah berkembang sejak seabad yang lalu, saat dunia industri sedang dalam tahap pengembangan dan pergolakan. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari aksi massal pekerja perempuan ke pabrik tekstil/ pakaian industri di New York, Amerika Serikat pada tanggal 8 Maret 1857. Aksi ini adalah upaya untuk menentang kerja seharian penuh, gaji yang rendah dan kondisi kerja yang buruk. Dua tahun kemudian, di bulan Maret pula untuk pertama kalinya pekerja perempuan tersebut mendirikan serikat buruh sebagai upaya melindungi diri mereka dan memperjuangkan beberapa hak dasar di tempat kerja.

Lima puluh satu tahun kemudian, tanggal 8 Maret 1908, 15.000 perempuan turun ke jalan di sepanjang kota New York menuntut diberlakukannya jam kerja yang lebih pendek, hak memilih dalam pemilu dan menghentikan adanya pekerja di bawah umur. Dalam aksi tersebut, mereka menyerukan slogan roti dan bunga, yang merupakan perlambang jaminan ekonomi dan kesejahteraan hidup.

Pada tahun 1910 diselenggarakan konferensi perempuan di Kopenhagen, yang dihadiri oleh 100 orang laki-laki dan perempuan, wakil dari 17 negara. Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan beberapa kesepakatan yaitu pemberlakuan Undang-undang standar 8 jam kerja per hari, perbaikan kondisi kerja dan tuntutan hak untuk memilih/ dipilih bagi kaum perempuan, serta kesepakatan bersama untuk melakukan aksi protes atau demonstrasi massal di setiap Negara untuk mencapai tuntutan-tuntutan hak keadilan bagi kaum perempuan. Namun demikian, belum ditentukan tanggal pasti untuk peringatan tersebut.

Perjuangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari usaha Clara Zetkin. Clara Zetkin merupakan wakil perempuan sosialis – Berlin yang memperjuangkan hak-hak pekerja perempuan dan pekerja anak-anak dalam kongres internasional II di Paris. Dalam kongres tersebut, Clara mengajukan beberapa persoalan pekerja perempuan dan anak untuk dimasukkan dalam program perjuangan gerakan buruh. Dalam perjuangannya, Clara berusaha untuk mendekatkan gerakan-gerakan perempuan sosialis di berbagai Negara. Pada tahun 1910, Clara berinisiatif untuk mengadakan konferensi internasional perempuan di Kopenhagen.

Setahun setelah konferensi Kopenhagen, untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Maret di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss hari perempuan sedunia diperingati dimana lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki turun ke jalan. Mereka menuntut agar perempuan memiliki hak untuk ikut serta dalam pemilu dan memiliki posisi dalam pemerintahan serta hak bekerja, kesempatan memperoleh pelatihan dan penghapusan diskriminasi dalam pekerjaan.

Kurang dari seminggu semenjak peringatan tersebut, pada tanggal 25 Maret terjadi insiden tragis di New York yang menewaskan lebih dari 140 orang buruh perempuan, yang mayoritas merupakan imigran dari Italia dan Yahudi di perusahaan Triangle Shirtwaist (peristiwa ini disebut sebagai tragedi Triangle Factory Fire). Kejadian ini membawa pengaruh dalam peraturan perburuhan Amerika Serikat dan pengecaman terhadap kondisi kerja yang telah menyebabkan insiden tersebut.

Pada tahun 1911, saat pecahnya perang dunia pertama, 8 Maret dirayakan dengan pawai dan demontrasi perempuan di berbagai Negara Eropa. Saat Revolusi Rusia dimulai, hari perempuan internasional ditandai dengan demonstrasi-demonstrasi massa dan protes untuk menuntut bahan makanan, yang dilakukan oleh kaum perempuan, laki-laki dan anak-anak. Di Inggris, peringatan hari perempuan internasional menjadi peringatan tahunan sesudah perang dunia kedua. Sementara itu di Amerika Serikat, peringatan hari perempuan internasional menjadi peringatan tahunan sejak munculnya Gerakan Pembebasan Perempuan yang lahir bersamaan dengan gerakan hak-hak sipil dan gerakan perdamaian anti perang pada tahun 1960an.

Pada tahun 1977, PBB mengajak semua Negara anggota untuk memproklamasikan hari sebagai hari PBB untuk Hak Asasi Perempuan dan Hari Perdamaian Dunia, yang penetapan harinya diserahkan kepada masing-masing Negara. Kebanyakan Negara menetapakn 8 Maret sebagai hari perempuan internasional, dan PBB pada tahun 1978 menetapakan tanggal 8 Maret dalam daftar hari libur resmi.

Merefleksikan Hari Perempuan Internasional
Hari perempuan internasional merupakan hari untuk menyatakan bahwa hak asasi perempuan adalah hak asasi manusia. Peringatan ini pada hakekatnya meripakan perjuangan untuk mencapai keadilan, kesetaraan dan kemanusiaan, tidak saja bagi perempuan namun bagi kelompok minoritas dan the voiceless lainnya.

Peringatan hari perempuan internasional, bukan kemudian menjadi euphoria terhadap perjuangan perempuan, namun menjadi momen untuk berefleksi dan melakukan aksi dalam mewujudkan dunia yang lebih baik dan berkeadilan. Peringatan hari perempuan internasional di Indonesia kurang banyak diketahui. Namun demikian, di Indonesia terdapat perayaan Hari Kartini dan Hari Ibu sebagai penghargaan terhadap perempuan. Pun demikian, sayangnya peringatan kedua hari tersebut kurang menekankan pada perjuangan perempuan dan lebih menekankan pada peran domestik perempuan.

Dalam level internasional, terdapat beberapa konvensi dan deklarasi mengenai perempuan, misalnya saja CEDAW yang merupakan bill of right Hak Asasi Perempuan. Pun demikian situasi dan kondisi perempuan hingga saat ini masih jauh dari harapan. Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi realitas yang sering dijumpai sehari-hari.

Monday, January 26, 2009

membangun sisterhood

0



Sisterhood (persaudarian perempuan) menjadi jargon klasik tahun 1970an, yaitu sisterhood is powerfull. Namun hingga kini, nampaknya masih sulit untuk membumikan jargon tersebut.


Perempuan harus berhadapan dengan kaumnya sendiri, hal ini terlihat jelas entah itu dalam konteks permaduan, perselingkuhan, dan sebagainya. Sementara laki-laki, si aktor utamanya justru berada di belakang layar. Atau menjadi saling menjatuhkan karena ingin tampak sebagai pemeran utama, sebagai akibat dari cinderella complex. Dalam kasus ini perempuan justru melemahkan satu sama lain, dan membuat sisterhood semakin jauh dari kuat.

Perempuan mengalami sejarah yang berbeda satu sama lain dalam prosesnya menjadi perempuan. Meski demikian perbedaan itu yang menjadikan indah, dan inilah pentingnya penghargaan terhadap pengalaman pribadi. Pengalaman seorang perempuan yang menjadi pekerja rumah tangga berbeda dengan pengalaman perempuan yang menjadi artis. Pun demikian, perempuan mengalami pengalaman yang sama berkaitan dengan ketidakadilan karena gender, meskipun bentuknya berbeda-beda.

Membangun sisterhood, berarti meningkatkan solidaritas perempuan. Hal ini penting, karena menyadari adanya ketidakadilan yang dialami perempuan seharusnya menjadikan solidaritas atas sesamanya meningkat. Sehingga yang terjadi adalah bukan saling menjatuhkan, namun bagaimana kemudian bisa menjadi bagian dari gerakan untuk meningkatkan kemajuan perempuan. Bagaimana perasaan sebagai sesama perempuan terjalin, sebagai bagian dari kelompok yang terkadang dilemahkan dalam sistem yang belum berpihak pada kelompok ini.

Membangun sisterhood bukan kemudian secara membabi buta membela perempuan. Namun bagaimana perempuan menghargai pertalian sesama perempuan ini dan memikirkan yang terbaik bagi saudarinya. Karenanya, saya sungguh tidak habis pikir jika kemudian yang terjadi adalah menafikkan kenyataan ini demi mendapatkan apa yang menjadi kepentingan pribadinya.

Wednesday, January 14, 2009

Perkembangan Hak Asasi Perempuan

0

Hak Asasi Perempuan (HAP) dapat dipahami sebagai hak yang dimiliki oleh seorang perempuan, karena dia perempuan. HAP muncul karena Universal Declaration of Human Right Declaration (UDHR) belum mampu mengakomodasi perlindungan terhadap perempuan atas pelaksanaan haknya. Jadi, HAP merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM), yang tidak lepas dari sejarah perkembangan HAM.

HAP merupakan gelombang HAM ketiga,yang muncul karena UDHR beserta dua konvensi turunnya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) belum cukup mengakomodir hak dasar perempuan, belum mengakui adanya perbedaan (differences) antara perempuan dan laki-laki serta tidak mengatur aksi afirmatif kepada kelompok rentan, termasuk perempuan.

Pada tahun 1979, PBB mengadopsi Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/ CEDAW). CEDAW ini merupakan deklarasi hak asasi manusia yang secara komprehensif mengakui HAP dan menjadi instrumen universal pertama yang mengatur HAP. Bahkan CEDAW dianggap sebagai bill of right for women yang menjadi standar universal pertama yang mengatur tentang HAP.

Sebelum lahirnya CEDAW, telah ada instrumen-instrumen internasional yang diadopsi berkaitan dengan perempuan. Konvensi Pemberantasan Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Manusia tahun 1949, memberikan perhatian terhadap kerentanan perempuan di wilayah/ lingkungan khusus. Bahkan pada tahun 1951, ILO telah menetapkan perjanjian antara Negara untuk menerapkan upah yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya. PBB pada tahun 1967, mengeluarkan deklarasi mengenai Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Pada tahun 1974, PBB mengeluarkan Deklarasi Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Keadaan Darurat dan Konflik Bersenjata, yang menunjukkan adanya pengakuan terhadap kerentanan perempuan dan anak dalam situasi konflik.

CEDAW memuat 12 area HAP, yaitu peran stereotipe dan prasangka; prostitusi; kehidupan publik dan politik; partisipasi pada tingkat internasional; kewarganegaraan; hak yang sama dalam pendidikan; ketenagakerjaan; kesehatan dan keluarga berencana; ekonomi dan manfaat sosial; perempuan pedesaan; persamaan di muka hukum; serta perkawinan dan hukum keluarga. Kedua belas area HAP tersebut mencakup hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Ini artinya CEDAW secara holistik memasukkan hak-hak tersebut dalam segala bidang kehidupan manusia, tanpa mendikotomikan antara urusan publik dan privat. Ini tentu saja berbeda dengan instrumen HAM sebelumnya yang mendikotomikan antara yang publik dan yang privat, padahal keduanya saling kait mengkait.

Perkembangan HAP tidak berhenti pada CEDAW, namun berkembang ke isu-isu yang belum diakomodasi dalam CEDAW. Dalam Konferensi HAM di Wina Tahun 1993, HAP dan hak anak diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari HAM universal. Pada tahun 1995 diadakan Konferensi Sedunia keempat tentang Perempuan di Beijing yang menghasilkan Deklarasi Beijing dan Landasan Aksi Beijing. Dalam konferensi Beijing ini dirumuskan aksi-aksi yang harus dilaksanakan untuk memajukan dan memberdayakan perempuan. Dalam deklarasi ini dinyatakan bahwa persamaan antara perempuan dan laki-laki adalah masalah hak asasi, syarat dari keadilan sosial dan persamaan pembangunan dan perdamaian.

Komite CEDAW pada tahun 1992 mengeluarkan Rekomendasi Umum Nomor 19 tentang Kekerasan terhadap Perempuan, dimana kekerasan terhadap perempuan adalah bentuk diskriminatif terhadap perempuan. Persoalan hak reproduksi kemudian diakui pada tahun 1994 melalui Konferensi tentang Kependudukan dan Pembangunan di Kairo. Konferensi ini merupakan konferensi HAM internasional pertama yang memberikan perhatian kepada orang muda, termasuk perempuan. Pada tanggal 6 Oktober 1999, Majelis Umum PBB mengadopsi Optional Protocol terhadap Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, yang memungkinkan pelaporan oleh individu atau kelompok.

Saturday, January 10, 2009

Resensi Film: turtle can fly

1

wah..hari ini saya menonton film ini kembali. Jadi ingat, saat terakhir menontonnya. kapan coba? 2 tahun lalu di cikole lembang bareng sama anak-anak. emp..gimana ya kabarnya kawan-kawan kecilku itu? 

Film ini asli bagus banget yang menceritakan perang dalam perspektif anak-anak, yang berlatarbelakang perang Irak-Amerika Serikat. Anak-anak ini kehilangan orang tuanya yang dibunuh massal saat perang. Anak-anak ini sebagian besar cacat karena ledakan bom, entah itu kehilangan kaki, tangan atau buta. Anak-anak ini dipimpin oleh seorang anak laki-laki yang dipanggil "Satelit" karena mampu mengakses parabola di desa yang saat itu menjadi tempat pengungsian. Satelit mengerahkan anak-anak tersebut untuk bekerja mencari ranjau yang kemudian dipertukarkan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di antara anak-anak tersebut, terdapat 3 orang anak. Anak laki-laki yang tidak memiliki tangan dan memiliki kemampuan meramal, anak perempuan berumur 13 tahun bernama Agrin dan seorang balita berumur 3 tahun yang matanya buta. Dan cinta kemudian datang pada Satelit kepada anak perempuan tersebut. Ini membuat Satelit mengusahakan tali kepada gadis tersebut, padahal tali termasuk barang yang cukup sulit didapatkan, membawakan air untuk gadis tersebut, mencarikan ikan mas serta mengusahakan masker oksigen. perang telah membawa anak pada situasi yang sangat rentan. Bagaimana Agrin yang kemudian mempunyai anak karena diperkosa oleh tentara Amerika. Karena peristiwa tersebut Agrin menjadi membenci anaknya dan berusaha untuk membunuhnya. Agrin kemudian menenggelamkan anaknya ke danau yang airnya sudah tercemar oleh bahan kimia dan kemudian menjatuhkan dirinya ke jurang.

Saturday, December 27, 2008

sepeda kertas

7

Setelah kemaren desperate buat sepeda nggak jadi-jadi, akhirnya hari ini bisa juga buat sepeda. Yah, nggak lepas dari fasilitas yang lebih ok dari kemaren, meski lemnya agak-agak kering he..he... (mau keluar beli males banget). Nggak terlalu bagus siy, tapi lumayan lah dibanding kemaren yang ancur banget dan karena kesel jadi ditinggal gitu aja. Tapi seneng, bisa juga buatnya. Next kalo bikin lagi bisa lebih bagus deh.. keliatan nggak kalo sepedanya dari koran bekas..?

Monday, December 22, 2008

Apa Kabar Perempuan Indonesia?: 80 Tahun Peringatan Hari Ibu

2

"untuk saudari-saudariku, selamat hari perempuan"

80 tahun lalu, pada tanggal 22 Desember, 30 organisasi perempuan di seluruh Nusantara berkumpul di Jogjakarta dalam Kongres Perempuan pertama. Pertemuan ini menghasilkan keputusan untuk membentuk Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI). Peristiwa ini merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia, dimana pada saat itu, perempuan tergugah untuk menyatukan organisasi perempuan yang telah ada sejak tahun 1912 dalam sebuah wadah yang mandiri, bersama-sama dengan kaum laki-laki meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa merdeka dan bersama dengan kaum perempuan lainnya meningkatkan harkat dan martabat perempuan menjadi perempuan yang maju.

Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia tersebut pada tahun 1929 berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII). Pada kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta pada tahun 1935, selain berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama perempuan sebagai ibu bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pergerakan perempuan di Indonesia pada masa itu, dapat dikatakan berkembang dengan pesat. Pada tahun 1920an, di setiap kota besar di Indonesia, telah berdiri organisasi perempuan. Jumlah ini bertambah pasca Kongres Perempuan I, dimana organisasi tersebut lebih memfokuskan pada pendidikan dan kesejahteraan perempuan. Hal ini dapat dipahami karena pada saat itu, pendidikan perempuan sangatlah rendah.

Perjuangan di ranah politik baru dimulai pada tahun 1938, dimana Isteri Indonesia, sebuah organisasi perempuan memutuskan untuk memperjuangkan perempuan sebagai anggota dewan di setiap kota. Perjuangan ini baru menuai hasilnya pada tahun 1941, dimana perempuan kemudian memiliki hak untuk memilih. Ini tentu saja bagian dari keberhasilan perjuangan perempuan, mengingat tidak semua perempuan di Negara lain telah memiliki hak untuk berpolitik. Di Swiss saja, perempuan baru mendapatkan hak politik untuk berpartisipasi dalam pemilu pada tahun 1970an.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu dilakukan saat Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung pada tahun 1938. Hal ini kemudian dikukuhkan dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu, merupakan bentuk penghargaan terhadap perjuangan perempuan pada masa itu, dimana perjuangan perempuan tidak bisa dilepaskan dari pergerakan nasional bangsa Indonesia. Oleh karenanya, peringatan hari ibu, tidak hanya sebatas pada penghargaan pada ranah domestik, sebagaimana konsep mother’s day. Ini dikarenakan dari sisi historis, hari ibu di Indonesia adalah hari perempuan Indonesia, yang merupakan tonggak bersejarah dalam perjuangan perempuan Indonesia.

Perempuan Indonesia Hari Ini
Dalam Kongres Perempuan I tanggal 22 Desember 1928, telah dibicarakan isu perempuan pada saat itu, yaitu persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Dari beberapa poin yang dibahas pada saat itu, banyak diantaranya yang masih menjadi persoalan perempuan saat ini.

Berkaca dari hal tersebut, peringatan hari Ibu sudah seharusnya tidak mengalami pereduksian makna.

Saturday, December 20, 2008

Solidarity Day

0

60 tahun yang lalu, Belanda dengan tiba-tiba menyerang salah satu daerah di Jogjakarta untuk menguasai daerah tersebut. Pada saat itu, para petani, pedagang, pejabat, tua dan muda bersama-sama, bahu membahu mengusir penjajah. Inilah yang kemudian menjadikan tanggal 20 Desember sebagai hari kesetiakawanan sosial.

Kesetiakawanan sosial akhir-akhir ini kemudian banyak didengung-dengungkan. Namun bagaimana dengan implementasinya? Atau jangan-jangan hanya milik Departemen Sosial yang selalu mengusung "tiada hari tanpa kesetiakawanan sosial". Semoga saja departemen yang membidangi urusan sosial di negara ini memang mengimpelemtasikan nilai-nilai kesetiakawanan sosial.

Semangat kesetiakawanan sosial telah lama dikenal di negeri ini. Dalam ajaran Hindu, ini dikenal dengan slogan tat twam asi yang artinya aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Begitu juga dalam agama lain, terdapat ajaran mengenai kesetiakawanan. Dalam nilai-nilai Pancasila pun ditemukan pula nilai-nilai mengenai kesetiakawanan.

Seiring dengan laju perkembangan zaman, dimana nilai-nilai materialisme semakin berakar dalam masyarakat kemudian melunturkan kesetiakawanan yang ada di masyarakat.Zaman revolusi fisik saat ini telah berakhir, namun dalam membangun negara menuju ke arah yang lebih baik diperlukan adanya kesetiakawanan sosial. Misalnya saja di tengah bencana yang akhir-akhir ini melanda di beberapa daerah, naiknya angka kemiskinan dan lain-lain.

kesetiakawanan sosial masih tetap relevan diterapkan. Dan tentu saja ini bukan hanya slogan belaka, melainkan juga diimplementasikan dalam sikap/ perbuatan. Kesetiakawanan tidak hanya dengan merasakan apa yang orang lain rasakan, namun bagaimana kita juga bisa berbuat sesuatu untuk mengatasi hal itu. Tentu saja jangan dibayangkan hal-hal yang besar-besar. Jika membayangkan hal ini tentulah terasa berat, namun hal-hal kecil yang bisa kita lakukan. Hal kecil ini bisa jadi merupakan awal dari hal besar yang akan membawa perubahan di masyarakat.

Thursday, December 18, 2008

Pembinaan Watak dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini

0

Dewasa ini, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tengah marak-maraknya. Di samping lembaga pendidikan yang menawarkan pendidikan anak usia dini, orang tua juga berlomba-lomba untuk memasukkan anaknya untuk mengikuti pendidikan anak usia dini. Berdasarkan wikipedia, PAUD dapat didefinisikan sebagai jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan untuk memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani sehingga anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Berdasarkan pasal 28 UU Sisdiknas No. 20/ 2003 ayat 1, rentangan umur anak usia dini adalah 0 – 6 tahun. Sementara itu, menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0 – 8 tahun.

Pendidikan bagi anak usia dini, cukup penting karena pendidikan tersebut lebih menitikberatkan pada pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, dan sosio-emosional. Oleh karenanya, anak akan memiliki kesiapan yang optimal dalam memasuki pendidikan dasar. Hal inilah yang kemudian menyebabkan pendidikan usia dini semakin digalakkan dan menjadi salah satu program pembangunan bidang pendidikan.

Berkaitan dengan penyelenggaran PAUD, penting untuk menyeimbangkan antara pendidikan yang berkaitan dengan kecerdasan, dengan emosi serta perasaan anak. Hal ini penting sehingga anak tidak kehilangan masa kanak-kanaknya dan juga dalam pembentukkan watak anak. Bukankah esensi pendidikan adalah memanusiakan manusia, bukan hendak menjadikan manusia mesin atau robot? Penyelenggaraan PAUD dan pendidikan-pendidikan yang lain, sudah seharusnya berorientasi pada proses pembelajaran bukan pada produk. Artinya, tidak didasarkan pada bagaimana anak cepat bisa membaca, menulis, berhitung dan sebagainya namun lebih kepada prosesnya. Ini berarti, bagaimana pendidikan kemudian dapat mendukung perkembangan anak, yang melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan.

Sebagai pendidikan yang diberikan kepada anak di usia dini, penting dalam penyelenggaraan PAUD untuk memberikan pembelajaran sehingga anak terus-menerus merawat minat dan keingin tahuannya untuk belajar. Perilaku keingintahuan inilah yang saat ini seringkali tercerabut dari anak, sehingga banyak anak yang menganggap sekolah sebagai beban dan selanjutnya enggan untuk bersekolah. Anak-anak sudah seharusnya mendapatkan pendidikan sesuai dengan usia mereka, sehingga mereka akan tumbuh dan berkembang sebagaimana usianya dan menikmati masa kanak-kanaknya. Ini penting agar anak tidak tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Pembinaan Watak Sejak Dini
Pembinaan watak menjadi salah satu hal yang penting dalam PAUD, di mana tidak hanya menekankan tentang baik atau buruk, benar atau salah. Namun lebih pada pembiasaan kepada anak tentang sikap yang benar dan baik. Oleh karenya nantinya nantinya hal tersebut akan menjadi kebiasaan bagi anak.

Berkaitan dengan hal ini, penting sekali untuk menanamkan pada anak, bahwa setiap anak itu istimewa. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda satu sama lain, yang tidak bisa disamakan. penerapan hal ini akan membuat mereka memiliki penghargaan terhadap dirinya, dan termotivasi untuk lebih baik lagi. Adalah tugas pendidikan, yang tidak hanya berusaha untuk menjadikan cerdas seorang anak, tetapi juga bagaimana anak nantinya menjadi pribadi yang baik, mandiri dan bertanggungjawab. Anak bukanlah miniatur orang dewasa yang bisa dibentuk sesuka hati, namun anak adalah pribadi yang spesial, yang harus didengarkan.

Nilai yang tertanam pada diri anak sejak dini inilah yang nantinya akan berpengaruh terhadap perkembangan diri dan sifat si anak. Anak adalah peniru yang baik, sehingga sudah seharusnya pembinaan watak ini dimulai sejak usia dini. Pendidikan sudah seharusnyalah juga mentransfer nilai-nilai baik pada anak, selain mentransfer ilmu pengetahuan.

PAUD sebagai sebuah pendidikan awal yang diterima bagi anak, sudah seharusnya mampu memberikan yang terbaik bagi anak. Ini penting, karena dapat menjadi peletak dasar karakter dan sifat seorang anak. Oleh karenya sudah seharusnya pembinaan watakpun diberikan kepada anak sejak dini.

“Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada kenangan indah terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita"
(destoyevsky' s brothers karamoz)

Wednesday, December 17, 2008

industri seks komersial di Indonesia

0

Industri seks boleh jadi menjadi suatu hal yang menarik untuk disimak, didiskusikan, dibaca dan situliskan. Saya masih ingat, betapa boomingnya Jakarta Undercover, yang menceritakan bisnis seks di Jakarta dan membuat buku tersebut sold out. Tidak salah jika kemudian Seno Gumira Ajidarma mengatakan bahwa tema seputar seks termasuk tema yang cukup diminati masyarakat.

Salah satu bentuk industri seks komersial adalah prostitusi. Sejarah prostitusi ini sendiri telah ada di Indonesia jauh sebelum zaman kolonial. Ini dapat dilihat dari praktek pergundikan yang biasa ditemui di Kerajaan di jawa. Praktek pengambilan gundik ini kemudian menjadi cikal bakal perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan seksual.

perempuan pada zaman tersebut acapkali dijadikan upeti kepada para bangsawan, baik sebagai upeti kalah perang atau agar memperoleh jabatan tertentu di istana. Tidak heran jika raja memiliki ratusan gundik.

Di Bali Raja berhak menikmati layanan seks dari janda yang berkasta rendah. BIla raja tak ingin memasukkan janda tersebut dalam rumah tangganya, ia mungkin akan dikirim untuk bekerja sebagi pekerja seks yang gajinya sebagiann dikirimkan kepada raja. (Sulistyaningsih:2002-3; Hull 1999) Hal ini menunjukkan bahwa perempuan tidak ubahnya seperti barang yang bisa dipertukarkan atau dihadiahkan dan tidak memiliki kebebasan atas dirinya. Akibatnya, perempuan telah mengalami sejarah panjang diskriminasi dan kekerasan, karena dia adalah perempuan.

Industri seks berkembang dan lebih terorganisir pada masa kolonial. Menurut Koentjoro, puncak pertumbuhan prostitusi di Indonesia terjadi ketika pembuatan jalan oleh Daendells, pembuatan rel dna stasiun KA. Di tahun 1917, menurut perkiraan Misset (1995), jumlah pekerja seks di Jakarta mencapai kurang lebih 3-4 ribu orabg. Di masa penjajahan Jepang, prostitusi makin berkembang. Banyak remaja dan anak sekolah ditipu dan dipaksa menjadi pekerja seks untuk melayani tentara Jepang.

Saat ini, berdasarkan laporan ILO tahun 1998, di Indonesia terdapat kurang lebih 140.000-230.000 perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks. Bisnis seks ini bahkan menyumbang 2-14% PDB negara-negara Asia, di Indonesia diperkirakan omzetnya mencapai $ 6.1 juta.

Friday, November 28, 2008

Ten Things To Do Instead Of Shopping

4

In honor of buy nothing day, 10 things to do instead of shopping: 
 1. Reading books 
 2. Take care of plants 
 3. Make a list that I would to do 
 4. Drawing trees 
 5. Write a poem 
 6. Walking around or running 
 7. Make handicrafts 
 8. Dreaming and listening my fav music 
 9. Clean up my room 
10. Sleeping (zzt...zzt...) 

 How bout you?