Friday, March 28, 2014

Satinah oh Satinah


Jelang hari akhir pembayaran uang diyat, yakni 3 April besok, di satu pihak banyak yang berusaha menggalang dana untuk membebaskan Satiyah, sebut saja Melani Subono, migran care atau Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tidak main-main, uang diyat tersebut mencapai Rp. 21 M, jumlah yang cukup besat. Di lain pihak ada yang tidak setuju dengan hal tersebut, dengan alasan Satinah seharusnya mendapatkan hukuman, karena Satinah sudah membunuh majikan dan mencuri uangnya. 

Lepas dari pro dan kontra terhadap hal tersebut, saya menjadi teringat pembicaraan saya beberapa waktu yang lalu dengan kawan saya terkait dengan hukuman mati. Dari pembicaraan mengenai setuju atau tidaknya hukuman mati (dan juga banyak hal lainnya) dipengaruhi oleh pengalaman kita juga. Misalnya saja, ketika ada seseorang anggota keluarga anda yang diperkosa sehingga mengalami trauma berkepanjangan yang tentu saja mempengaruhi masa depannya, bisa jadi anda kemudian menjadi setuju hukuman mati bagi pemerkosa, karena telah menghancurkan hidup seseorang. Atau misalnya ada anggota keluarga anda yang dibunuh seseorang, anda akan setuju hukuman mati bagi pembunuh tersebut. 

Saya sangat setuju apabila kehidupan di dunia ini bukanlah hitam putih, artinya kita tidak bisa serta merta melihat sesuatu dari apa yang ada adalah hitam atau putih. segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Misalnya saja ketika seseorang mencuri karena membutuhkan uang untuk membeli makan bagi anaknya yang masih kecil, jika tidak akan mati kelaparan. Tentu saja perbuatan mencuri adalah sesuatu yang tidak baik, namun jika dilihat ternyata perbuatan tersebut adalah akibat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi orang miskin. 

Demikian halnya dengan Satinah, perlulah kita melihat apa yang menjadi akar permasalahannya, daripada hanya melihat persoalan yang ada di permukaan yaitu Satinah bersalah karena telah membunuh dan mencuri. Tentu saja, perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan pun demikian kita juga tidak bisa abai dengan keadaan yang membuatnya melakukan hal tersebut. Karenanya sudah seharusnya peristiwa ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi TKI, sehingga negara ini tidak hanya menjadi negara pengirim TKI tanpa memiliki posisi tawar yang kuat. Akibatnya hanya mengirimkan TKI saja dan menerima devisa yang dihasilkan namun abai terhadap kondisi TKI yang ada di sana. Hal ini tentu saja menjadi tindakan preventif terhadap kejadian-kejadian yang mungkin timbul sebagaimana yang terjadi dalam kasus Satinah. 

Akhirnya, apa iya kita membiarkan saudara kita dihukum mati di negara lain di sana, karena sebenarnya dia memperjuangkan haknya yang tidak diterima. Lalu bagaimana dengan perlakuan tidak adil yang diterima Satinah yang menjadi pemicu kejadian pembunuhan tersebut?  

Friday, March 07, 2014

Selamat Hari Perempuan Internasional


saya masih ingat, 6 tahun yang lalu bersama dengan teman-teman aktivis perempuan saya ikut membagikan bunga kepada para perempuan yang melewati daerah seputaran bundaran HI, sembari mengucapkan "selamat hari perempuan". masih teringat juga 3 tahun lalu, bersama dengan kawan-kawan di kampus merencanakan perayaan hari perempuan.

hari ini atau beberapa hari yang lalu, ketika saya membaca headline di berita online, entah melalui detik.com atau yahoo.com atau melalui sosial media twitter, begitu banyak berita tentang pembunuhan perempuan atau perkosaan dsb, dsb. namun, ada sedikit berita yang membahagiakan juga buat saya, ketika melihat tayangan di TV tentang salah satu tokoh perempuan di negeri ini, yang begitu tulus memimpin sebuah kota di Jawa Timur. Ah, rasanya semua mendadak mengenal beliau. 

Memaknai hari perempuan di tengah hiruk pikuk jelang 1 bulan pelaksanaan pemilihan umum di negeri ini, tentu saja hal ini bukan berarti serta merta harus memilih calon perempuan. menurut saya sudah saatnya para pemilih menjadi pemilih yang cerdas. Bukan semata-mata karena "citra" atau  "penampilan" atau hal-hal yang sifatnya di permukaan, namun lebih pada substansi. Bagaimana komitmen calon legislatif tersebut terhadap kesetaraan gender, penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia atau ketegasan untuk tidak melakukan korupsi. untuk hal yang terakhir tersebut, rasa-rasanya sudah banyak pemberitaan mengenai korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan yang terhormat. Uang negara yang seharusnya digunakan untuk pengentasan kemiskinan di negeri ini atau perbaikan kualitas hidup warga miskin yang jumlahnya hampir mencapai 11,5% jika memakai hitung-hitungan BPS; dipakai untuk memperkaya segelintir orang yang duduk di kursi legislatif. Belum lagi korupsi ini juga membuat program pemerintah menjadi kurang tepat sasaran, akibat disalahgunakan. Aih parahnya negeri ini. Bahkan orang yang seharusnya menjadi wakil rakyat justru mengkhianati rakyat yang memilihnya. 

Aih saya sudah melantur kemana-mana, pokoknya "Selamat Hari Perempuan". semoga momen ini dapat menjadi momen untuk mulai dihargainya hak-hak perempuan serta kesetaraan gender di negeri ini. 

Saturday, February 15, 2014

Valentine's Day dan Rasa Cinta di Negeri Ini



Tanggal 14 Februari disebut sebagai hari valentine, hari dimana orang mengungkapkan kasih sayang pada orang yang dicintainya. Tentang sejarahnya, ada banyak versi tentang asal mula hari valentine ini. Tak hanya itu, bahkan beberapa sumber mengkaitkan hari valentine dengan keyakinannya, serta berpendapat tidak perlu merayakannya. 

Terlepas dari kontroversi atau pro konta tentang hari kasih sayang ini, saya pikir adanya hari kasih sayang adalah momentum untuk menyebarkan cinta dan kasih sayang. Cinta ini sendiri adalah kekuatan yang kuat yang mampu mengubah dunia, tidak berlebihan jika Mahatma Gandhi berkata "where there is love, there is life."  


cinta atau kasih sayang tentu saja tidak melulu adalah cinta sepasang kekasih atau pasangan, namun bisa diartikan lebih luas lagi. Cinta kepada sesama, cinta kepada lingkungan, dan sebagainya. Menjadi pertanyaan bagi saya ketika melihat realitas-realitas yang terjadi di masyarakat, dan mempertanyakan tentanga cinta. Apakah cinta sudah terkikis dari individu di negeri ini?

Suatu ketika saya menonton tayangan di sebuah stasiun televisi swasta, yang menayangkan tentang penggunaan cat tekstil dalam produksi makanan, lain waktu tentang penggunaan boraks dalam memproduksi makanan, kali yang lain tentang daging tikus yang dijual sebagai daging ayam. Apakah sudah hilang rasa cinta kepada sesama, sehingga untuk mendapatkan rupiah mengorbankan orang lain, tanpa memikirkan bagaimana akibat dari perbuatannya itu kepada orang lain. 

Di lain waktu, saya menyeberang jalan di zebra cross, traffic light berwarna merah. namun masih ada beberapa kendaraan yang melaju tanpa memikirkan pejalan kaki yang menyeberang. Hal yang sama terjadi ketika saya naik sepeda, traffic light berwarna merah dan saya menghentikan sepeda saya, namun motor dari belakang terus melaju hingga sedikit menabrak saya. Apakah tidak terpikir bahwa saya dan sepeda saya tentu saja tidak sebanding dengan motor. 

di suatu tempat yang lain, seorang ayah memperkosa anaknya, guru memperkosa muridnya atau suami yang menyiksa istrinya. tentunya masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi dengan nada serupa. Membuat saya kembali bertanya, hilangkah rasa cinta di antara kita semua?

Kasus korupsi yang marak diberitakan pun kembali membuat saya bertanya, apakah Rupiah sedemikian menggiurkan dibanding dengan akibat dari korupsi yang dilakukan: masih tingginya angka kemiskinan, anak putus sekolah, kesenjangan dalam masyarakat, dsb. 

namun tentu saja masih ada secercah harapan akan rasa cinta di negeri ini, ketika secara bertubi-tubi bencana datang, masyarakat saling tolong menolong, menggalang bantuan untuk membantu sesamanya yang ditimpa bencana. 

Refleksi bagi saya pribadi tentang rasa cinta ini, mungkin adalah dengan berpikir mengenai perbuatan yang saya lakukan dan implikasinya bagi orang lain. mungkin hal ini adalah hal kecil, namun adalah wujud cinta pada orang lain. dan akhirnya, selamat membagi dan menyebarkan cinta kepada sesama. 



Monday, February 10, 2014

Nasib Pejalan Kaki


Tidak terasa hampir satu tahun, saya kembali tinggal di ibu kota. bergelut dengan kemacetan dan akhir-akhir ini adalah banjir, sungguh sangat tidak bersahabat. saya tidak sedang menggerutu tentang banyaknya mobil di kota ini atau curah hujan yang tinggi, saya hanya ingin berbagi cerita tentang saya yang menjadi pejalan kaki. 

Menjadi pejalan kaki di jakarta tidaklah mudah, penuh perjuangan. Bukan hanya karena asap kendaraan bermotor, namun juga karena hak pejalan kaki yang seringkali terampas. Sebut saja tentang trotoar, di banyak tempat trotoar ini telah beralih fungsi, dari menjadi tempat parkir kendaraan atau tempat berjualan para pedagang. Akibatnya, pejalan kaki kehilangan tempatnya, yang seharusnya dia dapat berjalan dengan tenang di tempat yang sudah disediakan menjadi berebutan dengan pemakai jalan yang lain. 

Salah satu hal yang paling tidak menyenangkan adalah ketika menyeberangi jalan menggunakan zebra cross. Entah para pemakai jalan tidak memiliki sim atau tidak melihat adanya zebra cross, mereka menghentikan kendaraannya tepat di zebra cross atau bahkan melebihinya. sekali lagi perampasan hal pejalan kaki. tidak hanya itu saja, seringkali saya berteriak, karena beberapa pemakai jalan masih memacu kendaraannya ketika traffic lights berwarna merah. saya yakin, sebagian besar pengendara kendaraan itu adalah orang pintar yang memiliki ijazah paling tidak SMU, namun ternyata pemahaman berlalu lintasnya masih rendah. entah bagaimana mereka mendapatkan SIM. 

pernah juga suatu ketika, sehabis hujan kala itu dan saya berjalan di trotoarsebuah mobil dengan kejamnya memacu kecepatan ketika melintasi jalan, termasuk dengan genangan. alhasil basahlah saya dengan cipratan air tersebut.

sungguh saya merindukan bagaimana dihargainya pejalan kaki, bukan hanya dari trotoar yang bebas hambatan, tetapi juga saling menghargai antara pemakai jalan.  

Friday, December 27, 2013

Hari Ibu (Perempuan) dan Setahun Menjelang Berakhirnya MDGs


Tulisan ini sedianya ingin saya posting tepat tanggal 22 Desember, namun ternyata karena beberapa hal, tulisan ini belum juga selesai dan tidak bisa diposting sesua rencana. Anyway, tidak masalah karena intinya toh juga akan dipublish tinggal perkara waktu saja yang berbeda.


Hari Ibu di Indonesia yang biasa diperingati tanggal 22 Desember, memiliki esensi yang berbeda dengan hari ibu di banyak negara. Bagaimana tidak, dilihat dari sejarahnya 85 tahun yang lalu tanggal 22 Desember merupakan saat dimana para perempuan aktivis di Indonesia melakukan kongres wanita (perempuan) I. Kongres yang diikuti 30 organisasi perempuan lokal dari 12 kota di Jawa dan Sumatera tersebut, merupakan tonggak penting dalam perjuangan pergerakan perempuan di Indonesia. Untuk pertama kalinya, muncul kesadaran perempuan Indonesia atas kepentingan yang berbeda dari rekan laki-laki serta pada saat itu pula perempuan Indonesia dapat berkumpul secara bebas dalam menentukkan kehendaknya. 

Meskipun pertemuan tersebut sangat bersifat java-centris, namun semua pesertanya memandang diri mereka sebagai orang Indonesia. Hal ini terlihat dari digunakannya bahasa Melayu dalam pelaksanaan pertemuan tersebut. Pertemuan yang dihadiri kurang lebih 1.000 orang, tentu saja merupakan suatu hal yang hebat pada masa itu. Bagaimana tidak, dengan kondisi transportasi pada saat itu serta tradisi yang mengukung perempuan, hadirnya para aktivis perempuan di Yogyakarta dalam kongres Perempuan Pertama adalah suatu perjuangan yang luar biasa. Terkait dengan kongres ini, bahkan ada yang mengatakan "Orang perempoean sadja kok mengadakan Congres, jang hendak diremboeg disitoe itoe apa!"

Beberapa topik yang diangkat terkait dengan permasalahan perempuan antara lain kedudukan perempuan dalam perkawinan; perempuan yang ditunjuk, dikawin dan diceraikan di luar kemauannya; poligami; dan pendidikan untuk anak perempuan. Meskipun terjadi perdebatan dalam kongres tersebut, namun semua peserta sepakat bahwa perempuan harus maju. Kongres tersebut kemudian memutuskan (wartafeminis.com):
  • untuk mengirimkan mosi kepada pemerintah kolonial untuk menambah sekolah bagi anak perempuan;
  • pemerintah wajib memberikan surat keterangan pada waktu nikah (undang-undang perkawinan), dan segeranya diadakan peraturan yang memberikan tunjangan kepada para janda dan anak-anak pegawai negeri Indonesia;
  • memberikan beasiswa bagi siswa perempuan yang memiliki kemampuan belajar tetapi tidak memiliki biaya pendidikan, lembaga itu disebut studie fonds;
  • mendirikan suatu lembaga dan mendirikan kursus pemberantasan buta huruf, kursus kesehatan serta mengaktifkan usaha pemberantasan perkawinan anak-anak;
  • mendirikan suatu badan yang menjadi wadah pemufakatan dan musyawarah dari berbagai perkumpulan di Indonesia, yaitu Perikatan Perkumpulan Indonesia (PPPI), yang bertujuan memberikan informasi dan menjadi mediator berbagai perkumpulan di dalamnya. 
Kongres perempuan ini kemudian memunculkan inisiatif para perempuan untuk mendirikan perkumpulan-perkumpulan yang bertujuan untuk membela dan melindungi hak kaum perempuan. Tidak salah jika kongres perempuan tersebut merupakan tonggak penting dalam sejarah gerakan perempuan di Indonesia. Karenanya, bagi saya pemaknaan hari ibu adalah pereduksian dari makna perjuangan perempuan di kala itu. Meskipun 85 tahun berlalu dari kongres perempuan I dilaksanakan, dalam konteks kekinian, hal yang dibicarakan tersebut masih relevan.

Lantas, apa hubungannya dengan MDGs? Sebagaimana yang kita tahu, bahwa MDGs memiliki 8 target pembangunan, yaitu menghapus kemiskinan dan kelaparan di dunia, mencapai level penddidikan dasar universal, memberdayakan perempuan dan mempromosikan kesetaraan gender, mengurangi angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup, serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Negara-negara di dunia diharapkan mampu memenuhi target MDGs, hingga tahun 2015; artinya hanya tinggal 1 tahun menuju berakhirnya MDGs.

Mengkaitkan dengan peringatan hari perempuan dan juga menjelang berakhirnya MDGs, menarik rasanya untuk melihat bagaimana kondisi perempuan dan juga target MDGs yang terkait dengan perempuan serta keadilan gender.

bersambung...

Saturday, December 14, 2013

kemudian... tentang menulis


Rasa-rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis, mungkin saya sudah lupa tentang asyik dan nikmatnya menulis. Entah mengapa, gairah untuk itu seakan tidak ada lagi. Menjadi teringat yang dahulu pernah saya tulis, bahwa menulis memberikan kekuatan. Pernah di masa yang lalu, ketika terluka saya bisa menghasilkan banyak tulisan, entah puisi entah cerita. Mungkin memang benar saat sedih lebih membuat saya menjadi produktif. Pernah juga, seseorang menjadi energi positif bagi saya untuk menulis, meskipun dia acapkali mencaci tulisan saya dengan mengatakan tulisan saya tidak mengalir lepas, dsb..dsb.. namun menjadi picu bagi saya untuk menulis lebih baik lagi. 

entah mengapa, rasanya ingin kembali pada masa itu ketika ide-ide berhamburan dan menulis adalah gairah bagi saya. Kini rasanya tangan dan otak beku dan menulis tak lagi menjadi suatu kebutuhan bagi saya. Seseorang pernah berkata, budaya menulis panjang hilang karena orang disibukkan dengan menuliskan status di facebook, twitter atau jejaring sosial lainnya. Mungkin benar juga, tapi jika saya melihat jejaring sosial sosial.. sepi dari kata update status.

Rasanya merindukan benar masa itu, ketika saya bisa menulis cerita pendek. Atau ketika cerita pendek saya menuai banyak pujian (kecuali seseorang, yang mencemoohnya), bukan karena saya haus pujian, namun ada yang senang membaca cerita saya adalah suatu hal yang berharga bagi saya. 

Semoga setelah tulisan kecil ini, saya menemukan hasrat saya kembali untuk menulis. Kemampuan saya memang masih jauh untuk hal ini, pun tak ada yang salah untuk melakukannya...  

Thursday, May 16, 2013

Semua Berawal dari Keluarga


Halo Takita...
Kakak sudah baca surat Takita, wah Takita makin pandai saja ya.. Jadi gemes nih, hehehe... Maaf ya baru sempat membalas surat Takita, kemarin kakak sibuk mengerjakan thesis. Untungnya sekarang sudah selesai, jadi bisa cerita-cerita sama Takita...  ini nih thesis kakak... akhirnya selesai juga setelah berbulan-bulan penuh perjuangan.


Membaca surat Takita, kakak jadi teringat masa kecil kakak dulu. Bapak dan ibu kakak juga yang pertama kali mengajari membaca dan menulis; hanya saja zaman kakak dulu belum ada handphone dan blog, jadi kakak belajar menulisnya di buku saja. Waktu sudah bisa menulis, kakak suka sekali membuat daftar kata-kata berdasarkan jumlah suku katanya. Orang tua kakak selalu menemani kakak, dan memberi tahu kosakata-kosakata baru ketika kakak sudah kehabisan perbendaharaan kata. Ketika kakak mulai bisa membaca, setiap keluarga kakak pergi ke rumah makan, bapak dan ibu kakak selalu meminta kakak untuk membacakan menunya, tidak peduli berapa lama waktu yang kakak butuhkan untuk membacanya. Hasilnya, kakak menjadi lancar membaca dan memiliki banyak perbendaharaan kata.

Takita pernah mendapatkan hadiah dari ayah dan ibu Takita ketika Takita jadi juara kelas? Ketika masih di Sekolah Dasar,  Bapak kakak berkata, beliau akan membelikan kakak sepeda jika kakak rangking 20, sementara kalau kakak rangking 1, akan mendapatkan es krim. Jauh sekali ya bedanya..? Kakak merasa aneh, bagaimana tidak, mengapa menjadi juara kelas hanya mendapatkan es krim, sementara tidak menjadi juara kelas mendapatkan sepeda. Namun dari situ kakak belajar untuk tidak mengharapkan sesuatu dari apa yang sudah dikerjakan. Sampai sekarang, kakak terbiasa melakukan sesuatu karena kakak menginginkannya, bukan karena sesuatu yang nantinya kakak dapatkan. Ini juga yang membuat kakak lebih menghargai proses dibanding hasil akhir. Hasil akhir bukanlah masalah, yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk meraihnya. Sama seperti ketika kita belajar suatu pelajaran, yang penting adalah bagaimana kita bisa menguasai pelajaran tersebut, bukan nilai yang kita dapatkan.


Dari dulu kecil, orang tua kakak tidak pernah membeda-bedakan sesuatu berdasarkan gender. Waktu kecil, orang tua kakak membolehkan kakak bermain boneka, masak-masakan, dan juga bermain bola atau perang-perangan. Bahkan Bapak kakak pun mengajari kakak memperbaiki genteng rumah yang bocor, meski kakak seorang perempuan. Melalui keluarga kakak belajar bahwa, apapun itu gender/ jenis kelaminnya bukan menjadi halangan untuk melakukan sesuatu. Tentu Takita pernah mendengar tentang diskriminasi karena gender bukan? Dimana seseorang mendapatkan perlakuan diskriminasi karena dia terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Kakak yakin, jika di semua bidang, termasuk keluarga, setiap anak  belajar untuk menghargai satu sama lain dan juga keadilan gender; tentunya keadilan gender dan juga penghargaan terhadap tiap individu bisa terwujud. 

”Lomba
Di sekolah, kakak banyak mendapatkan pengetahuan dan pelajaran, pastinya Takita begitu juga kan? Namun bagi kakak, di keluargalah kakak belajar ilmu hidup. Keluarga memiliki banyak andil, bagaimana  kepribadian kakak terbentuk. Rasa-rasanya apa yang dikatakan Max Kazeronnie benar jugathe primal and the best education start from the family. Bagaimana Takita? Pasti Takita setuju kan? Seperti yang Takita bilang, kalau Takita mulai belajar mendengar, berbicara, membaca, menulis dan cara bersikap ke teman atau saudara, dari keluarga. Keluargalah tempat pertama kita belajar dan melalui pendidikan keluarga yang baik, tentunya akan berpengaruh positif pada diri kita.

Sama seperti Takita, kakak juga punya mimpi agar semua anak mendapatkan pendidikan terbaik di keluarga. Apalagi ketika kakak membaca beberapa kasus seperti kekerasan oleh gang motor, penyalahgunaan narkoba, dsb; dengan pendidikan yang baik di keluarga, bisa memberikan pondasi yang kokoh untuk kepribadian seseorang. Dan pada akhirnya generasi muda yang berkualitas akan tercipta, ini tentunya impian kita semua bukan..?

Ini cerita kakak tentang pendidikan yang kakak dapat di keluarga kakak. Oke Takita, sampai bertemu di surat selanjutnya ya...


salam,
ria

Posting ini diikutkan Program Keluarga dan Pendidikanku oleh Takita dan BlogFam  



”Lomba

Sunday, May 05, 2013

mengingat kartini, mengingat perempuan Talang Mamak




.. sekedar catatan di hari Kartini..

Terlepas dari segala kontroversi tentang mengapa hari Kartini, mengapa Kartini, dsb; menurut saya Kartini adalah sosok perempuan yang patut diteladani. entah berjuang dengan pena, senjata, dsb; perempuan berkontribusi dalam sejarah bangsa ini. yang membedakan Kartini adalahdia menulis... 

perjumpaan saya dengan perempuan Talang Mamak dan mengenal mereka lebih dekat dimulai ketika penelitian saya berlangsung.

Kartini memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, namun di Talang Mamak pendidikan adalah hal yang sulit, bagaimana tidak sekolah dasar ada di sana (Durian Cacar) di tahun 1997. Inipun tidak bisa diakses oleh semua masyarakat. Seorang gadis kecil (10 tahun) berkata "ndak ada yang bawa awak ke sekolah, sekolah jauh. Orang tua awak tak bolehkan awak pegi." Pendidikan pun masih dirasa sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting bagi sebagian orang. Pun demikian tentu saja berbeda dengan situasi sebelumnya dimana perempuan tidak memiliki akses terhadap pendidikan, terkait dengan jauhnya sekolah dan realitas bahwa mereka tinggal di dalam hutan. Kini situasi berubah, masuknya perusahaan ke lokasi mereka, dibangunnya jalan, serta perkembangan daerah di sekitar mereka telah mengubah daerah mereka menjadi lebih 'terbuka'. 

sayangnya perubahan di lingkungan mereka tidak serta merta membawa ke kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar orang Talang Mamak di Durian Cacar kehilangan tanahnya, entah dijualnya atau diambil oleh PT yang masuk ke wilayah mereka. Perempuan yang semula memiliki hak atas tanah, di beberapa kasus kehilangan haknya. Terkadang suaminya menjual tanahnya tanpa memberitahunya. bisa dibayangkan, tanpa tanah, tentusaja kehidupan masyarakat yang sulit bertambah sulit. Di beberapa kasus, perempuan menjadi lebih bergantung pada suaminya, karena sulitnya pencaharian. 

.. to be continue (again????)




Sunday, March 17, 2013

Transgender? So What?


Beberapa hari yang lalu, beberapa kawan-kawan saya heboh tentang berita Renaldi Rahman (dulunya sempat menjadi artis cilik) yang menjadi transgender. Ternyata berita ini bukanlah berita baru, beberapa tahun sebelumnya juga sudah ada kabar mengenai hal ini. Menjadi transgender, so what?

Membaca beberapa komentar di berita tersebut, membuat saya mengernyitkan dahi, bagaimana tidak, hampir sebagian besar menyayangkan keputusannya menjadi trans gender, bahkan mengkait-kaitkan dengan azab. Ada pula komentar menarik yang mengatakan, jika menjad transgender dan mau diterima publik di Indonesia, harus memakai jilbab, terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, naik haji, dsb. Miris bukan

Menjadi teringat, beberapa tahun yang lalu saya mengikuti sebuah seminar tentang transgender dan homoseksual, seorang peserta adalah trans gender (laki-laki ke perempuan). Dia mengungkapkan pengalamannya, bagaimana tidak mudahnya menjadi transgender dan diterima oleh publik. Contoh kecil adalah pengalamannya tentang toilet atau ketika berkemah. Ketika menggunakan toilet perempuan, dia 'ditolak' oleh beberapa perempuan menggunakan toilet tersebut, sementara menggunakan toilet laki-laki adalah tidak mungkin karena dia merasa dirinya adalah perempuan. Demikian halnya ketika berkemah, tentang di tenda mana dia kemudian tidur. 

Sungguh tidak mudah menjadi transgender. Pun demikian tidak semua trans gender di negeri ini mendapatkan perlakuan diskriminasi. Membaca berita tentang Dena (Renaldi Denada) yang mengungkapkan pengalamannya, boleh jadi adalah pengecualian, bagaimana lingkungan di sekitarnya menerimanya dan dia pun tak mendapatkan perlakuan diskriminan. 

Heteronormativity norm
Seseorang terlahir menjadi laki-laki atau perempuan, tidak bisa keduanya. Demikian norma yang berlaku umum di masyarakat. Bagaimana proses menjadi laki-laki dan perempuan? Ketika bayi lahir, kemudian berdasarkan alat kelamin yang dimilikinya, dokter mengatakan bayi perempuan atau bayi laki-laki. Dari situlah kemudian ekternalisasi nilai tentang laki-laki dan perempuan biasanya dimulai. 

bersambung 


Thursday, January 03, 2013

gamer girl manifesto


this is from my assignment ;)
----
Today I came across to a video in youtube, gamer girl manifesto by SexyNerdGirlPresents. It is a manifesto of female gamers telling not to sexualize them for their existence in the game world. It is not only embrace that sexist is not acceptable, but also suggest not to be homophobic and racist. In the end they questioning ”you know what kind of player they are and what kind of player you are.”
Don’t be racist. Don’t be homophobic. Don’t be sexist. Follow that code and everybody will have a good time. And when someone breaks that code, CALL THEM OUT. Don’t just let it ride.
I think it is an interesting video and have great message. The female gamers in that video are quite diverse which also represent that female gamer are heterogeneous.  However there are quite few differences from people who like it and dislike it. There are 13,689 likes and 10,560 dislike and most of the comments are negative. Mostly people said that in the online game gender does not matter, because the important thing is how u play. Is that really happen? I do not think so.
When I am playing online game, I never get harass but I can not generalize my experience with others. In my online field work, I did it in the online game (AIKA) and asked the experience of female gamer. One female gamer said that when people know she is female, they start to bully her. Another female gamer told me why she use male character, because she don’t want to get harass by other gamer. It means, that choosing male character seems to be a safe way for the female gamer to avoid harassment.
Then I tried to find out the female gamer’s experience in the online game, and I found an interesting blog by Jenny Hariver titled not in the kitchen anymore. Her blog documented her experience when playing games, included  sexism in the online game.
Further, in her blog, Valerie who made that video told the reason of that video as well as why she choose sexynerdgirl as her account name. This is interesting since her choice to use sexynerdgirl have raise controversy and even people start to accuse her, she tried to get attention by using that kind of name.
I do support that in the gaming culture, the culture of non-sexist, non-racism and non homophobic should be embraced and that video not only mention about sexism! In the game world which is stereotypically male dominated area, it is possible that sexist behavior exist in the gamer community.  Further, the game which using sexy female avatars may also contribute on it.
 

bunga rumput Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino