Saturday, February 04, 2012

Peduli Lingkungan Ala Finland

3


Perbincangan sekaligus perhatian terhadap lingkungan rasa-rasanya semakin mengemuka. Sempat saya baca sebuah berita di twiteer di Sumatra Utara, pasangan yang akan menikah wajib menanam satu batang pohon. Ini mengingatkan saya dengan perbincangan saya 5 tahun lalu, di daerah Kuningan Jawa Baratpun pasangan yang akan menikah wajib menyumbangkan satu tanaman. Tidak hanya itu saja, ada banyak gerakan menanam pohon di negeri ini, meski kasus pembalakkan hutan masih saja terjadi.

Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya ditunjukkan dengan gerakan menanam pohon atau menyumbangkan pohon saja. Di beberapa negara, pemerintah membuat program car free day. Yang saya tahu tentang program tersebut, kemacetan justru berpindah di tempat lain, bahkan tak jarang saya kesusahan dalam mengakses publik transportasi.

Beberapa bulan tinggal di Finland, salah satu negara scandinavia ini membuat saya ingin menuliskan peduli lingkungan ala negeri seribu danau ini. Tempat sampah di sini terdiri dari beberapa macam, yaitu landwaste, metal, karton, burning waste, glass dan kertas. Sudah menjadi kewajiban dari tiap keluarga/ orang untuk memilah-milah sampahnya dan membuangnya di tempat sampah yang sesuai. Memilah-milah sampah ini pun diajarkan kepada anak-anak, sehingga ketika mereka dewasa kebiasaan memilah sampah telah tertanam di diri mereka. Terkait dengan glass recycling, bersama dengan Jerman, Finland memiliki tingkat glass recycling yang cukup tinggi yaitu 80-90%.

Kumpulkan botol air mineral dan kaleng coke atau beer anda, anda akan mendapatkan voucher berbelanja. Ya, anda bisa menukarkan botol dan kaleng tersebut di supermarket dan mendapatkan voucher untuk berbelanja di supermarket tersebut. Sayangnya saya tidak terlalu memanfaatkan program ini, berhubung jarang membeli air mineral dan tak pernah membeli coke atau beer.

Jika di tanah air, untuk mendukung program peduli lingkungan di beberapa supermarket, disediakan kantong plastik atau kantong khusus dengan membayar beberapa ribu rupiah. Namun tentu saja, pihak supermarket tersebut memberikan kantong plastik secara cuma-cuma. Saya menjadi teringat, saya selalu membawa kantong plastika kemana saja saya pergi, sehingga ketika saya berbelanja saya selalu menolak kantong plastik yang diberikan. Lain halnya dengan di sini, supermarket tidak memberikan kantong plastik secara cuma-cuma (hanya ada kantong plastik ukuran kecil yang tersedia gratis), karenanya selalu membawa tas atau kantong plastik sendiri.

Toko-toko second hand cukup banyak ditemukan di sini. Barang-barang yang tidak terpakai dijual di toko second hand. Anda bisa menemukan barang dengan harga miring di toko second hand, dan ini artinya menggunakan konsep re-use. Jika dilihat dari sisi ekonomi, mungkin ini adalah kebermanfaatan kepemilikan. Sebagai contoh, ketika anda membeli mesin cuci baru sementara mesin cuci lama masih berfungsi, alangkah baiknya jika mesin cuci tersebut dialihkan ke orang lain yang lebih membutuhkan dari pada membuat sesak rumah anda.

Kedekatan orang Finland dengan alam, ini terlihat dari salah satu kegiatan yang dilakukan orang Finland yaitu berburu jamur dan berry. Kebanyakan mereka dapat membedakan jamur yang bisa dimakan dan yang tidak. Ini cukup penting karena tidak semua jamur dapat dimakan.

Mungkin masih banyak lagi cara peduli lingkungan di negeri ini yang luput dari pengamatan saya. Namun yang saya pelajari, peduli dari lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dan tentu saja mari kita mulai dari sekarang.





Sunday, January 22, 2012

Merindukan Ruang Publik yang Aman bagi Perempuan (dan Anak)

0

Miris hati saya, ketika pagi ini membaca sebuah tulisan "Mahasiswi Diperkosa Lima Pemuda di Angkot." Ini mengingatkan saya pada status mbak Mariana Amiruddin di FB beberapa hari yang lalu,
"Seorang ibu menunggu angkot di pinggir kota sendirian. Datanglah angkot kosong gelap. Saya panik, langsung saya beri tumpangan. Kebetulan satu tujuan. Lalu kami berdua diskusi soal perkosaan di angkot dan situasi kota yg memburuk."
Saya menjadi bertanya, apakah mimpi tentang ruang publik yang aman bagi perempuan (dan anak) masih jadi mimpi belaka di negeri ini? Beberapa waktu yang lalu ketika bertemu dengan kelompok perempuan di Turku (red: Finlandia), mereka bertanya apa yang membedakan hidup di Indonesia dengan di Turku dari perspektif saya yang perempuan. Agak sulit menjawabnya, ada beberapa hal yang membuat saya turn green with envy dengan keadaan di sini. Salah satunya adalah rasa aman, meski malam atau dini hari saya masih berada di jalan yang sepi dan gelap, sendirian; namun saya merasa aman. Tidak ada street harassment yang biasa saya dapati atau saksikan di Indonesia, entah itu komentar dari sekelompok orang (laki-laki) atau siulan. Hal yang sama saya rasakan ketika berada di Thailand, meski tentu saja kadar rasa amannya tidak setinggi di sini. 

 Saya kemudian bertanya, akankah ketika kembali nanti ke negeri tercinta ruang publik sudah menjadi tempat yang aman bagi perempuan. Ketika berbicara tentang ruang publik dan rasa aman, kemudian saya teringat dengan pernyataan seorang tokoh yang menyalahkan busana yang dipakai perempuan. Ah.. kembali perempuan menjadi yang paling bertanggungjawab atas urusan moral. Tubuh perempuan disalahkan dan bagaimana perempuan berbusana menjadi hal yang dituding sebagai penyebab ketidakamanan pada perempuan. Permasalahannya apakah pada perempuan dan busana yang dikenakannya atau pada cara pandang yang menjadikan perempuan sebagai objek? Ketika masyarakat saling menghormati dan menghargai satu sama lain, tidak memandang pihak yang lain sebagai objek, ruang publik yang aman bagi perempuan (dan anak) bahkan bagi siapa pun tentu saja bukan impian belaka. ----

Tuesday, January 17, 2012

Resensi: The Girl Who Leapt Through Time

0

Title : The Girl Who Leapt Through Time (Toki o Kakeru Shōjo) 
Year : 2006 

Seandainya saja kita bisa mengulang waktu... 
Kata-kata itu acapkali kita dengar, dan bagaimana jika bisa? Akankah menjadi hal yang berbeda? Benarkah itu yang kita inginkan? 

Makoto, seorang remaja Jepang yang tinggal di Tokyo secara tak sengaja memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu, semenjak dia selamat dari tabrakan dengan kereta api akibat rem sepedanya oblong. Makoto menggunakan kemampuannya untuk berbagai hal, dari memperbaiki nilai ujian, makan puding yang sebelumnya dimakan adiknya, karaoke hingga 10 jam, memakan makanan kesukaannya, membantu seseorang mengungkapkan perasaannya, menghindari 'kecelakaan' di kelas, bahkan mencegah kematian seseorang. Melihat film ini, kadang Makoto menggunakan kemampuannya itu untuk hal yang tidak seperlunya. Dan siapa sangka kemampuan itu ternyata memiliki batasannya. Memiliki kemampuan tersebut rasanya cool dan mungkin kita berpikir bisa melakukan hal yang lebih baik jika bisa mengulang waktu. Kita bisa dengan mudah kembali ke waktu dengan moment yang kita suka atau memperbaiki sesuatu.
"Kamu bisa melakukan perjalanan waktu, tapi pernahkah berpikir mungkin ada seseorang yang menderita karena hal itu?"
demikian kira-kira kata bibi Makoto yang dipanggilnya aunty witch. Benar saja, ketika Makoto menyadari perasaannya pada Chiaki, dia menyesal telah melakukan pengulangan waktu berkali-kali untuk menghindari Chiaki menyatakan perasaannya. Terlebih ketika mengetahui Chiaki akan menghilang. 

Bagaimana kelanjutan kisah Makoto dan Chiaki? Atau bagaimana Makoto memanfaatkan kemampuannya itu? Bisa diikuti dengan menonton filmnya langsung. Menurut saya film ini cukup bagus dan mengandung pesan moral yang tentu saja sangat subjektif tergantung masing-masing dari kita. Finally, film ini cukup worthed untuk ditonton.

Friday, January 06, 2012

Jilbab dan Saya

1


Memakai jilbab di Indonesia adalah hal yang lumrah, cara berpakaian ini bahkan dianggap sebagai cara berpakaian yang baik. Tidak hanya itu, beberapa daeraho bahkan mewajibkan perempuannya untuk berjilbab. Tinggal di negara orang, menjadikan banyak orang bertanya pada saya mengapa memakai jilbab. "Kamu tinggal di Indonesia, negara yang panas. Mengapa kamu memakai jilbab? Apa tidak gerah?" demikian tanya salah seorang teman saya dari China. Lain lagi dengan teman saya dari Perancis yang sedikit lebih 'menyerang', tak seharusnya simbol keagamaan dipaai di muka umum ( ini sejalan dengan kebijakan Prancis).

Saya memulai memaki jilbab ketika saya masuk kuliah. Saya bukan berasal dari keluarga atau lingkungan pesantren atau yang taat sekali pada agama. Ibu saya hingga saat ini terkadang memakai jilbab dan terkadang tidak. Keinginan memakai jilbab, saya rasakan di saat akhir masa SMU saya. Ketika itu banyak teman dekat saya yang kemudian memaka jilbab (ini mungkin sedikit banyak mempengaruhi saya), selain keinginan untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan menjalankan agama saya lebih baik. Tidak ada yang mempertanyakan hal ini pada saya, dan tak ada pula yang mengkritisi. Saya pun tak mempertanyakan hal ini pada diri saya.

Ketika berjilbab, saya pikir tak ada orang yang bertanya tentang agama saya. Namun ternyata tidak demikian. Ketika saya berada di Aceh, seseorang bertanya, "Apa agama adik?" Baru kali ini saya mendapat pertanyaan seperti itu, yang membuat saya heran (tentu saja).

Memakai jilbab membantu saya dalam aktivitas saya. Ketika bekerja di Aceh, memakai jilbab tentu saja menjadi hal yanga menguntungkan. Demikian halnya dalam aktivitas saya di beberapa daerah di Jawa Barat, memakai jilbab membuat saya 'lebih mudah masuk ke masyarakat'. Tidak hanya itu saja, aktivitas saya yang menuntut saya hingga larut malam masih berada di transportasi publik atau seringkali bepergian sendiri, memkai jilbab membuat saya merasa aman dan nyaman.

Namun jilbab juga membuat saya 'malu'. Ketika beberapa pemimpin daerah mewajibkan perempuan di daerah tersebut untuk memakai jilbab. Atau kewajiban memakai jilbab di lingkungan sekolah atau kantor. Jilbab menjadi alat politik dan menjadi alat untuk mengontrol tubuh perempuan.

.. Bersambung

Europe Trip

2


Judul postingan ini mirip dengan judul film yang baru saja saya tonton. Sengaja memang, namun perjalanan saya tidak untuk menemui penpal dan menyatakan perasaan hati pada orang tersebut. Akhirnya mimpi untuk jalan-jalan d Eropa kesampaian juga, meski tidak semua negara Eropa saya jamah. Semoga masih ada next time buat saya. Amien..

Kalo boleh dibilang perjalanan ini kurang well-prepared karena sebelumnya disibukkan dengan ujian dan tugas-tugas. Namun masih bisa searching tiket pesawat dan hostel. Perjalanan ini dimudahkan karena saat ini saya tinggal di Finland dan memiliki residence permit jadi bebas ke negara Uni Eropa lainnya.

Perjalanan ini benar-benar tidak ada duanya, bagaimana tidak. Beberapa jam sebelum berangkat saya masih mengerjakan soal ujian dan kemudian disibukkan membeli sepatu boots. Deritanya tidak berhenti sampai di situ saja, cerita sebelum berangkat bisa dilihat di sini.

bersambung

Meski perjalanan

Saturday, November 05, 2011

Qurban: to understand the pain of others

6


Sehari sebelum Idul Adha, membuat saya ingin merenungkan makna dibalik hal tersebut. Apa yang terbersit dalam benak anda ketika ditanyakan tentang Idul Adha? Mungkin jawabnya ada Nabi Ibrahim, sapi, hewan kurban, penyembelihan,... Saya tidak akan menulis tentang bagaimana sejarah kurban, karena hal tersebut dapat dengan mudah didapatkan di internet.

Menjadi teringat dengan hari Raya Idul Adha yang sudah-sudah, bagaimana saya menjadi sedih ketika menatap hewan-hewan kurban tersebut. Berqurban tidak hanya harus menyisihkan sebagian harta anda untuk membeli hewan qurban dan membaginya dengan kaum papa, tapi juga mengorbankan hidup mahkluk yang lain. Hal ini membuat saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim kala itu, mengutip twitter Gunawan Muhammad:
Mungkin kita lupa bahwa yg harus dikorbankan Nabi Ibrahim dua hal: seorang bocah yg tak bersalah dan ikatan batinnya dgn si anak.


Hal tersebut rasanya berat dan saya tak bisa membayangkan jika saya berada dalam posisi tersebut. Betapa berat pengorbanan itu. Bahkan dalam kasus hewan kurban, kita membeli hewan kurban dan kemudian menyembelihnya. Bagaimana qurban yang kita lakukan mengantarkan mahkluk lain dalam sakit dan kematian. Hubungan qurban tidak hanya antara orang yang berqurban dan kaum papa yang kemudian menerima daging kurban, tetapi juga dengan hewan yang dikurbankan. Mungkin hubungan yang terakhir kurang kita perhatikan, namun jika kita hayati akan membuat kita tersadar tentang arti pengtingnya hidup, dan merefleksi pengorbanan yang kita lakukan. Kita tidak hanya berkorban dengan menyisihkan harta untuk membeli hewan qurban, tetapi juga mengorbankan hidup hewan tersebut.

Esensi dari berkorban tidak hanya berbagi dengan orang lain (terutama mereka yang tak berpunya), tetapi juga memaknai pengorbanan yang dilakukan. Ini tentu saja tak hanya berlaku pada hari raya idul adha, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita. Hal kecil saja, pernahkah kita berpikir ketika mengkonsumsi sesuatu, untuk menjadi suatu barang tentu ada pengorbanan yang dilakukan. Ketika menjumpai makan siang kita, mungkin itu adalah pengorbanan ibu/ayah/istri/suami kita yang melupakan rasa lelah setelah bekerja mencari uang dan membuat masakan tersebut yang bahkan mungkin mengorbankan waktu istirahatnya. Jika kita merunut asal suatu barang makan akan banyak cerita pengorbanan-pengorbanan yang akan kita dapatkan. Hal ini akan membuat kita lebih menghargai sesuatu dan memaknai sesuatu bahkan hal kecil sekalipun.

Selamat merayakan idul adha...





Monday, October 17, 2011

sejenak membincangkan cinta dalam sajak 'Aku Ingin'

0


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sapardi Djoko Damono, (1989)



Mungkin cinta adalah tema yang paling sering kita dengar saban hari, entah di televisi, roman, lagu atau dalam kehidupan sehari-hari. Membincangkan tentang cinta membuat saya teringat dengan sajak Aku Ingin-nya Sapardi Djoko Damono. Puisi ini cukup populer, jika tidak percaya anda bisa menggooglingnya dan akan keluar berlembar-lembar hasil termasuk musikalisasi puisi tersebut. Mungkin andapun akan menemukan video karya saya di sini, wah kenapa saya malah jadi promosi ya ^_^ hehehe.. back to the topic



Puisi ini mungkin terkesan sederhana, namun sejatinya mengandung makna yang dalam (setidaknya bagi saya). Untaian kata-kata tersebut menyentuh benar dalam diri saya, salah satu kepiawaian SDD adalah meramu kata-kata dan ini adalah salah satunya. Bahkan hingga kini saya masih berusaha memaknai untaian kata dalam sajak itu.

mencinta dengan sederhana
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Saya menjadi bertanya bagaimanakah itu mencintai dengan sederhana? Cinta dalam wajah yang sederhana, tanpa ada kerumitan atau hal-hal yang 'wah'. Membaca sajak 'Aku Ingin', SDD menghadirkan wajah kesederhanaan cinta dalam peniadaan sebagaimana hubungan api dan kayu atau awan dan hujan.

Mencermati kata-kata tersebut, membuat saya berpikir tentang unconditional love. Hubungan kayu dan api dan awan dan hujan, mungkin adalah hubungan yang tak pernah kita pikirkan. Rasa-rasanya hubungan tersebut adalah suatu yang normal adanya, mungkin demikianlah pengorbanan, tak mengharap berbalas. Suatu hubungan yang tulus mungkin.

Kadang menjadi bertanya, kenapa mencintai seseorang, andai dia adalah pembunuh, masihkah mencintainya? andai dia bukan anak kita, masihkah mencintainya? dan masih banyak andai andai yang lain tentu saja. Cinta.. dan pada akhirnya saya hanya bisa mengutip kata-kata Joni Mitchell,
....and still somehow I really don't know love at all.

Mungkinkah saya yang membuat cinta menjadi sebuah rumusan yang complicated dan tak berusaha mennyederhanakannya? entahlah.. Mungkin saya masih terjebak dengan definisi atau apalah tentang cinta atau mungkin bagaimana menyebut perasaan saya. Menjadi bertanya apakah saya sudah benar-benar mencinta? Mencinta dengan sederhana sebagaimana yang tertuang dalam sajak aku ingin.

Atau mungkin ini adalah bentuk cinta yang lain. Cinta tuhan kepada makhluknya...

Wednesday, August 31, 2011

Idul Fitri di Finlandia

7


Berbeda dengan di tanah air yang masih belum menentukan Hari Raya Idul Fitri, beberapa hari yang lalu KBRI Finlandia mengumumkan bahwa Idul Fitri jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Ini adalah kali kedua saya merayakan lebaran tidak bersama keluarga. Jika tahun lalu, saya bersama teman-teman saya beramai-ramai mendatangi KBRI Thailand namun tidak tahun ini. Jarak Turku-Helsinki yang cukup jauh (2.5 jam), selain saya juga belum pernah ke Helsinki (selain di Bandara ketika menunggu penerbangan ke Turku) dan juga adanya jadwal di kampus membuat saya mengurungkan niat saya untuk ke KBRI.

Fortunately, Natasha gave me information about Ied Prayer in Turku. Yo, saya bersama muslim lain di Turku mengikuti Shalat Ied di Leaf areena Kärsämäentie 3. Shalat ied ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Muslim Somalia, dan kebanyakan jamaah yang datang berasal dari Somalia. Leaf Areena adalah gedung olahraga di kota Turku, gedung ini cukup luas dan memadai untuk melakukan shalat Ied.

Suasana shalat di sini cukup berbeda dengan di tanah air, tidak hanya karena saya dan teman-teman perempuan saya dari Indonesia yang mengenakan mukena (sementara yang lain tidak), bahkan anak kecil di sebelah saya (kira-kira berumur 8 tahun) mengenaikan topi pandan ^_^ tetapi juga kerapian shalat. Sebelum shalat dimulai, bahkan kami sempat bingung arah kiblat, dan ketika shalat pun barisan (shaf)-nya belum cukup rapi (menurut pandangan saya). Parahnya, meski tempat shalat cukup luas, namun karena seorang ibu menyuruh anaknya berada di samping kanan dan kiri saya, membuat saya tidak leluasa bergerah. Alhasil, saya tidak bisa berkonsentrasi karena sempitnya tempat ketika akan sujud atau duduk T_T

Usai shalat Ied, ada khotbah yang tidak saya mengerti karena tidak menggunakan bahasa Inggris. Uniknya, di dekat pintu keluar beberapa anak membawa sekaleng permen dan jamaah yang datang bisa mengambil permen. Selain itu ada juga balon berwana hijau bertulis Ied Mubarak dari Perhimpunan Muslim Somalia yang bisa diambil oleh para jamaah yang datang.


IED MUBARAK!!! Minal Aidin wal Faidzin

Monday, August 22, 2011

Welcome to the Country of Thousand Lakes

0

Perjalanan dari Bangkok ke Helsinki kurang lebih memakan waktu 10 jam. Penerbangan dengan maskapai dari negara asal pembalap Kimi Raikonen cukup menyenangkan, mereka menyediakan fasilitas entertainment, sayangnya film yang tersedia tidak cukup menarik bagi saya dan saya lebih memilih untuk tidur karena beberapa hari yang lalu saya tidak cukup tidur dan seperti biasa, penyakit saya mengantuk setiap berada di kendaraan selalu muncul. Makanan yang disediakan cukup berlimpah meski tidak bisa dibilang enak, standar saja. 

Saya berangkat bersama teman satu kampus saya asal Vietnam, Ha. Sebelumnya saya sempat deg-degan juga, dengan barang bawaan saya dan ternyata kekhawatiran saya terbukti bagasi saya overweight (nggak tanggung-tanggung 7 kg). Untungnya petugasnya hanya memperingati saya agar pada saat perjalanan pulang saya hati-hati agar tidak overweight lagi. Sedikit tips untuk mensiasati barang bawaan, datang lebih cepat untuk check in, karena biasanya semakin awal kita check in kemungkinan diperbolehkan jika bagasi kita overweight lebih besar. 

Sampai di Helsinki sekitar pukul 6 dan perjalanan belum berakhir karena masih harus menunggu penerbangan ke Turku yang artinya saya harus menunggu sekitar 6 jam. Bandara Helsinki tidak terlalu besar dan tidak banyak fasilitas gratis yang bisa dimanfaatkan hanya ada wi fi yang bisa saya akses dari hp saya. Dan saya pun duduk dan tiduran di kursi yang disediakan untuk menunggu. Bandaranya tidak terlalu ramai dan tidak banyak hal menarik untuk dilihat jadi waktu saya benar-benar habis untuk tiduran dan internetan sekedar chat via YM atau Facebook. Helsinki - Turku ditempuh dalam waktu 1 jam. Pesawat ke Turku cukup kecil dan anehnya di tiket tidak tertera nomor tempat duduk. Ketika saya tanyakan pada pramugari, saya bisa memilih tempat duduk manapun yang saya suka, karena tidak ada nomor tempat duduk. 

Begitu tiba di bandara Turku, I got surprise. Ya, bandaranya kecil dan lengang. Sesampainya di badara Turku, Heli (tutor Ha) sudah ada di sana dan kami (saya dan Wanna) masih harus menunggu Nina, tutor kami yang datang tak lama kemudian. Kami pun segera menuju apartemen kami, yang memakan waktu kira-kira 20 menit. Kesan pertama yang saya dapatkan jalannya cukup lengang tidak ada kemacetan sama sekali dan kotanya cukup kecil (jauh berbeda dengan Bangkok atau Jakarta). 

 This is My Apartment 
Apartemen tempat saya tinggal, Kuunsilta berada di Ritzinkuja dan letaknya berdekatan dengan apartemen lain yaitu Pilvilina dan Haliskyla. Kurang lebih 5 menit berjalan kaki, ada Supermarket, Hesburger (Finnish burger), Pizzeria & Kebab, Penyewaan DVD dan ATM. Letaknya tidak jauh juga dari Kampus (15 menit bersepeda dan 45 menit berjalan kaki). Saya memiliki 2 orang flatmate dan kami berbagi dapur, bathroom dan toilet. Lebih bagus daripada dormitory saya di AIT dan kamarnya pun lebih luas. Internet super duper cepat, ini bagian yang saya suka.

Tuesday, August 09, 2011

Ngabuburit di Kampung Jawa, Ketemu Cucunya KH Ahmad Dahlan

0

Ngabuburit kali ini saya pergi ke Kampung Jawa di Bangkok. Cukup mudah untuk menuju Kampung Jawa, dari AIT naik van ke Victory Monument (30 THB) dilanjutkan menggunakan BTS ke Surasak (35 THB). Turun dari BTS dari exit nomor 4 dan jalan menuju gang pertama di sebelah kiri. Anda bisa pula menanyakan pada penduduk sekitar tentang lokasi surau (untuk masjid disebut surau). Meskipun terkenal dengan nama kampung jawa, namun kebanyakan penduduk yang saya temui tidak bisa berbahasa Jawa, atau jikapun bisa hanya sedikit-sedikit. Adapula yang bisa berbahasa Indonesia. Beberapa penduduk kebanyakan adalah generasi ketiga atau keempat, beberapa dari mereka yang saya temui, tidak mengetahui tepatnya daerah asal orang tuanya di Jawa. Namun, beberapa di antara mereka bisa berbahasa Indonesia. 

Selain Masjid Jawa, terdapat pula pekuburan muslim di sana dan juga madrasah untuk mengaji yang diselenggarakan selepas maghrib, namun selama bulan puasa ini tidak ada kegiatan. Ngabuburit di Kampung Jawa cukup asyik, bagaimana tidak karena sepanjang jalan ada banyak penjual makanan dan halal pastinya. Menurut salah seorang penjual, dia berjualan selama bulan puasa saja. Saya membeli makanan untuk sahur (chicken, lupa namanya) seharga 30 THB. Jika ingin membeli ta'jil untuk buka puasa pun ada banyak pilihan. Anda pun bisa berbuka puasa di Masjid Jawa. Meski namanya masjid Jawa, namun tidak tertutup kemungkinan bagi orang luar yang ingin bergabung. Kala itu saya lihat ada juga orang dari Asia Selatan pun datang ke sana. Di sana saya berkenalan dengan Ibu Asmi, yang kebetulan bertanggung jawab untuk konsumsi hari itu. Saya cukup beruntung karena beliau bisa berbahasa Inggris. Ayah bu Asmi dari Jawa yang telah lama tinggal di Thailand dan ibunya dari Singapura. Sayangnya beliau tidak bisa menjelaskan sejarah orang tuanya sampai di Thailand. "Dulu saya bisa bahasa Jawa, tapi sekarang sudah lupa," demikian tutur bu Asmi. Bu Asmi dahulu tinggal di Kampung Jawa, namun sekarang beliau tinggal di daerah Ramkamheng. Sebelum adzan maghrib kami berkumpul di dalam surau dan mengaji bersama-sama. Selesai mengaji, seorang Bapak membagikan uang 20 THB kepada orang yang datang. Pukul 6.30 pm, kami duduk di meja dan kursi yang sudah disediakan plus hidangan buka puasa. 1 meja terdiri dari 2 kursi untuk 4 orang dan masing-masing meja ada 1 nampan besar berisi makanan: kurma, bakpau (isi ayam dan bakpau manis), dan makanan khas Thai yang saya tak tahu namanya. Ada juga jahe hangat, es kayu manis dan milo. Selesai menikmati makanan, kami mengikuti shalat maghrib berjamaah disana dan menikmati jamuan makan malam. Uniknya, makan tidak menggunakan piring, namun langsung di nampan besar (1 meja 1 nampan), sehingga terasa sekali kebersamaannya. Selain nasi terdapat pat khing (tumis kacang panjang dan ayam), gorengan yg terbuat dari ikan (semacam fish nugget), dan sayur dgn kuah ada beef dan beberapa dedaunan lain yang saya tidak tau namanya. Serta kelengkeng dan rambutan sebagai pencuci mulut. Melalui tata cara ini, saya benar-benar merasa rasa kebersamaan. 


Selesai menyantap makanan, kami ngobrol dengan beberapa orang di sana. Mereka bercerita tentang leluhur mereka yang berasal dari jawa. Kemudian kami bertemu dengan Ibu Walidah dan anaknya yang mengajak kami datang ke rumahnya. Bahkan mereka mengajak kemi menginap pula. Ketika sampai di sana, kami baru mengetahui ternyata beliau adalah cucu KH Ahmad Dahlan. Beliau sedikit-sedikit bisa berbahasa Indonesia dan menceritakan tentang sejarah keluarganya di sana. Ibu Walidah Dahlan adalah anak terakhir dari 10 bersaudara dari anak laki-laki KH Ahmad Dahlan. more photo can be viewed here