Sunday, August 07, 2011

serunya buka puasa di KBRI Thailand

0

Meski kemarin adalah puasa pertama saya, namun seminggu berpuasa di negeri gajah ini sudah bisa membuat saya merindukan suasana puasa di Indonesia. Ramainya penjual yang menawarkan ta'jil buka puasa dan juga orang-orang yang menghormati orang berpuasa adalah suasana berpuasa yang bisa saya rasakan di Indonesia, sementara di sini (pengalaman tinggal di dalam kampus) tidak demikian, buka puasa di tempat masing-masing tanpa ada adzan yang berkumandang (kecuali jika menginstal program islamic finder) seperti yang saya lakukan atau tinggal di dekat prayer room, dan tak ada pula penjual yang menawarkan makanan khas buka puasa seperti kolak dsb.

Kerinduan akan tanah air sedikit terobati ketika mengikuti acara buka puasa bersama yang diadakan KBRI di Thailand. Acara yang diselenggarakan tanggal 6 Agustus lalu di Aula Achmad Yani, dihadiri kurang lebih 200 orang Indonesia yang berdomisili di Bangkok. Bahkan seorang mahasiswa Indonesia yang tinggal di Chiang May rela menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam untuk ikut menghadiri acara tersebut.

Tidak hanya dapat mencicipi masakan Indonesia macam soto, ayam goreng, sayur brokoli, kolak, es blewah, dll tapi juga menjadi ajang silaturahmi masyarakat indonesia di Bangkok. Selain buka puasa, dilaksanakan pula shalat maghrib, isya dan tarawih bersama.

Thursday, August 04, 2011

Komunitas Dayak Losarang: New Masculinity?

1

Sebelumnya saya berpikir Komunitas Dayak Losarang adalah komunitas suku Dayak Kalimantan yang berada di Indramayu. Namun ternyata tidak ada kaitan antara Komunitas Dayak Losarang ini dengan suku Dayak di Kalimantan. Jika anda sedang berada di Indramayu, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Komunitas Dayak Losarang. Lokasinya cukup mudah dijangkau, dari jalur pantura, berhenti di Kantor Polsek Losarang dan ikuti jalan di sebelahnya (dekat dengan yayasan milik Da'i Bachtiar). Selanjutnya anda bisa berjalan kaki kurang lebih 10 menit.

Lokasinya cukup mencolok karena dikelilingi pagar tembok yang digambar dengan relief-relief serta bangunan yang cukup unik. Terdapat 5 bangunan di sana, yaitu rumah pemimpin (Bpk Takmad Diningrat), ruang workshop, tempat untuk upacara dan ruang meditasi. Komunitas ini cukup terbuka, tamu yang datang disambut baik oleh mereka dan mereka juga cukup terbuka mengisahkan sejarah komunitas ini.

to be continue


Monday, June 27, 2011

Talad near by AIT

0

Ada beberapa talad (pasar) yang dekat dengan AIT.
Thamassat Hospital Talad

Pasar ini adalah morning market yang mulai pada pukul 08.00 dan berakhir pukul 3 siang. Pasar yang terletak di dalam Thamassat hospital ini cukup mudah diakses dari AIT, pun demikian pasar ini hanya ada hari senin dan kamis saja (meski terkadang ketika saya ke sana hari selasa, pasar ini ada juga).

Ada banyak barang yang bisa dibeli di pasar ini, namun paling banyak adalah fashion. Selain itu ada juga makanan dan anda juga bisa pijat di sini. Jika anda datang ke pasar ini pada pagi hari, anda bisa melihat morning alm, dimana beberapa orang memberikan makan kepada para monk yang sedang berdoa.

Selain itu, ada juga green market dimana anda bisa membeli sayur-sayuran dengan harga yang lebih murah dibandingkan di grocery :p

Taladnat (Thamassat night market)
Pasar ini terletak di lokasi Thamassat university. Dari AIT, bisa menggunakan sepeda dan berangkat dari gate 2.

Talad Thai
Adalah pasar sayuran terbesar di Asia Tenggara.


Tuesday, May 17, 2011

Jim Thompson, an American who fall in love with Thailand

0

Jim Thompson (James Harrison Wilson Thompson) adalah seorang businessman (juga arsitek dan kolektor barang-barang antik) dari Amerika, yang kemudian bergabung dengan US Army. Dalam tugasnya, dia berkunjung ke Thailand dan jatuh cinta dengan negara yang dikenal sebagai negeri gajah putih tersebut. Setelah pensiun dari tentara, Jim Thompson tinggal di Thailand dan dia ikut mengenalkan thai silk ke dunia internasional. Dalam perjalanan busnisnya di Malaysia, Jim Thompson menghilang dan tidak ada kabar berita hingga saat ini.

Jim Thompson kemudian membangun sebuah rumah untuk menampilkan koleksi-koleksinya, yang mana pembangunan rumah tersebut butuh waktu satu tahun. Rumah tersebut kemudian menjadi museum yang dikenal dengan Jim Thompson House.

selanjutnya bisa dibaca di sini.

Thursday, May 05, 2011

seorang awam membaca RUU Fakir Miskin

0

Baru-baru ini, entah di FB, di twitter atau di situs online ramai dengan kunjungan DPR RI ke Australia dalam rangka studi banding untuk RUU Fakir Miskin. Bukan karena substansi RUUnya tapi karena email. Saya tidak akan membahas tentang persoalan email dan komisi 8, tetapi bagaimana saya sebagai orang awam membaca RUU Fakir Miskin.

Versi lengkap RUU Fakir Miskin bisa dibaca di sini Terkait dengan penduduk miskin, berdasarkan data BPS tahun 2010, terdapat 31 juta penduduk miskin, atau setara dengan jumlah penduduk Malaysia atau separuh dari total populasi Thailand (Komnas HAM). Terkait dengan penanganan fakir miskin, pemerintah sebenarnya telah memiliki beberapa undang-undang, yaitu UU Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU Kesejahteraan Sosial

Dalam RUU tersebut, fakir miskin didefinisikan sebagai berikut:
Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya

Berdasarkan definisi tersebut, berarti seseorang dikategorikan sebagai fakir miskin jika: tidak memiliki sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi dirinya dan atau keluarganya. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana jika seseorang memiliki sumber mata pencaharian namun tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi dirinya dan keluarganya? mengingat kata sambung yang digunakan adalah 'dan' bukan 'dan/ atau'. Jadi kedua kondisi tersebut harus terpenuhi. (atau ini adalah sesat pikir saya?)

Dalam RUU tersebut, saya membaca hanya ada 1 pasal (pasal 18) yang berbicara secara khusus tentang perempuan, itupun dalam konteks penyuluhan dan bimbingan.
ayat 1 : Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyelenggarakan penyuluhan dan bimbingan bagi fakir miskin agar mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.


ayat 3 : Selain kepada sasaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2), penyuluhan dan bimbingan diberikan kepada: a. para ibu selama periode sebelum hamil, masa kehamilan, sesudah melahirkan dan menyusui, sehingga dapat melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas.


RUU ini sama sekali tidak menyinggung tentang perempuan kepala keluarga, yang kemungkinan banyak diantaranya adalah fakir miskin. Identifikasi perempuan kepala keluarga akan membuat RUU ini lebih sensitif, mengingat adanya klausul tersebut akan membuat para stakeholder memberikan perhatian kepada perempuan kepala keluarga, terlebih di beberapa daerah (berdasarkan video yang saya lihat, hasil produksi sebuah NGO) masih ada perlakuan diskriminatif terhadap perempuan kepala keluarga yang menjadikan mereka semakin termarginalkan.

Jika dibaca secara keseluruhan RUU ini gender netral, artinya tidak membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki. Semua fakir miskin, baik perempuan atau laki-laki memiliki hak yang sama. Memang belum ada data secara spesifik yang menggambarkan kemiskinan perempuan, namun apabila melihat realitas yang terjadi dimana angka kematian ibu masih cukup tinggi, masih adanya ketimpangan gender dalam partisipasi anak perempuan dan laki mengikuti pendidikan formal di tingkat sekolah lanjutan, masih terkonsentrasinya pekerja perempuan di sektor pekerjaan dengan tingkat pendidikan dan gaji yang rendah.

(bersambung.. maaf saya sakit perut jadi belum bisa melanjutkan)

Saturday, April 30, 2011

Eropa Boi ....

3

Rasanya masih mimpi saja, ketika mendapatkan email ini. Eropa.. akankah saya kesana? Last week I got email from Maheva committee selection:
Dear applicant, You have applied for a MAHEVA scholarship under the ERASMUS MUNDUS Action 2 project, to study in one of MAHEVA European partner Universities in 2011/12 Academic Year. After examination of your application file, the MAHEVA Selection Committee has the pleasure to inform you that your candidature has been accepted within the frame of a MAHEVA mobility at University of Turku.

 

OUR SINCERE CONGRATULATIONS! HOST UNIVERSITY: University of Turku TYPE OF MOBILITY: MASTER DURATION OF THE MOBILITY: 10 MONTHS MONTHLY SUBSISTENCE ALLOWANCE: xxxx euros
Finland... Scandinavian country.... please tell me that this is not a dream Wish everything going well, finger crossed

Tuesday, April 19, 2011

Gender Quota in Election

0

“Women's empowerment and their full participation on the basis of equality in all spheres of society, including participation in the decision-making process and access to power, are fundamental for the achievement of equality, development and peace.”
(Beijing Declaration, 1995)

Gender quotas in election can be a means to boost women’s participation in politics. This is in line with the international agenda for women’s advancement in all spheres, as mention in the Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination against Women (CEDAW) and also Beijing Platform for Action 1995. Now gender quota seems became ‘fever’, which is followed by several countries in the world.

In Indonesia, the regulation on gender quota for the first time is introduced on 2003 through Law number 23/ 2003. New law on Legislative General Election (Law number 10/2008) and Political Party (Law number 2/2008) also regulated gender quota. Mentioned on that law, every political party should ensure at lease 30% quota of women representatives in the process of establishment, as well as in the board structures. Furthermore, a political party could participate in 2009 general election if there were at least 30% women in the party’s board. But, that regulation seems as just a symbolic sign, since not followed by clear regulated implementation as well as sanction for non-compliance.

for the complete essay can click here

Thursday, April 14, 2011

Songkran dan Pariwisata Thailand

0

Pariwisata tidak melulu tentang pemandangan alam ataupun pembangunan tempat yang menarik, namun juga menjadikan festival sebagai sarana menarik wisatawan. Ini yang menjadi cara negeri Gajah Putih dalam memasarkan pariwisatanya, misalnya saja festival Songkran. Tahun ini menurut perkiraan Kasikorn Research Center (KResearch) jumlah wisatawan selama songkran akan mencapai 17 juta orang. Banyaknya jumlah wisatawan didukung dengan diskon khusus yang diberikan sejumlah maskapai penerbangan ke Thailand selama songkran. 

Songkran atau perayaan tahun baru tradisional Thailand dirayakan pada pertengahan bulan April. Tahun ini festival tersebut berlangsung pada 13-15 April, yang juga menjadi hari libur nasional dan dapat dinikmati di seluruh penjuru Thailand. Bahkan masing-masing provinsi memiliki tema-tema tersendiri plus beberapa kegiatan menarik, seperti pertunjukkan tarian, festival makanan tradisional. Perang air yang menjadi ciri khas perayaan Songkran mengajak para wisatawan untuk ikut ambil bagian dalam perayaan itu dan menjadikan festival lebih ‘hidup’. Tengok saja perang air di Khao San Road –kawasan backpacker di Thailand, yang menjadi tempat favorit para turis untuk merayakan Songkran-, berbagai orang dari berbagai negara berbaur dengan para penduduk lokal mengikuti perang air dan tepung. Ratusan orang memadati Khao San Road dan saling menembak satu sama lain dengan water gunnya dan juga menaburkan tepung ke wajah orang lain. 

Songkran tidak hanya perang air, berbagai kegiatan spiritual berlangsung di beberapa temple, misalnya saja Wat Po yang terkenal dengan patung reclining Budha-nya. Para turis diajak secara langsung untuk melihat bagaimana penduduk lokal merayakan Songkran, misalnya pemberian sedekah atau bersembahyang. Acara tersebut dimeriahkan pula dengan pertunjukkan budaya dan festival makanan tradisional yang mengajak para pengunjung mengenal Thailand lebih dekat.

Monday, March 28, 2011

sebuah cerita dari Nakhon Nayok

0

3 hari, saya dan teman-teman saya akhirnya berkesempatan melakukan field trip. Lokasi tujuan field trip adalah Pak Phli District di Nakhon Nayok Province. Daerah ini tidak jauh dari AIT, bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan menggunakan van. Ada kerinduan berada di lapangan, bercerita dengan masyarakat, belajar dari mereka. 

Namun di sini tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Bagaimana tidak? Kendala bahasa menjadi tantangan terbesar dan mempersulit pendekatan dengan mereka. Membandingkan dengan negeri tercinta, tentu saja di sini keadaannya jauh lebih baik. Meski salah seorang petinggi negara mengajukan excuse tentang masih belum baiknya pelayanan publik di Indonesia karena wilayah yang luas dan penduduk yang banyak. Jika dibandingkan dengan Thailand, tentu saja Indonesia jauh lebih luas dan lebih banyak penduduknya. Namun tentu saja itu bukan menjadi alasan untuk tidak memenuhi hak-hak warga negara. Dari sisi kesehatan, semuanya gratis. Termasuk alat kontrasepsi, menjadi teringat perbincangan saya dengan kawan-kawan perempuan saya tentang alat kontrasepsi. Ketika mereka akan menggunakan alat kontrasepsi, bukan sejarah kesehatannya yang ditanyakan, namun mau alat kontrasepsi dengan harga berapa. Ironis, negara berusaha mengatur laju pertumbuhan penduduk, namun di sisi lain menjadikan perempuan tidak lebih dari objek. Jika di Indonesia pendidikan masih belum gratis, atau kalaupun gratis masih ada pungutan-pungutan lain. Tidak demikian halnya di sini. Pendidikan gratis hingga SMU dan negara juga memberikan bantuan untuk seragam dan buku, jadi pendidikan benar-benar gratis. Tidak hanya itu saja, di sebuah sekolah yang saya kunjungi bahkan jika ada kasus siswi yang hamil, setelah melahirkan dia bisa kembali ke sekolah. Ada pula uang pensiun bagi mereka yang berumur 60 tahun, meski jumlahnya tidak banyak (500 THB/ bulan atau sekitar 150.000/bulan) namun tentu saja lebih baik dari pada tidak ada. Bagi para difabel juga mendapatkan tunjangan tiap bulannya. Jika di suatu daerah membutuhkan day care service, daerah tersebut dapat mengajukan permohonan ke pemrintah. Menjadi termenung dengan keadaan negeri saya yang tercinta, kapan bisa benar-benar memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Rasanya banyak orang kaya di negeri ini, bisa dilihat tentu saja dari perputaran uang yang terjadi, atau mall yang tak pernah miskin pembeli. Kemana larinya pajak-pajak itu?

Thursday, March 10, 2011

Sebuah Apologi: Catatan di Hari Perempuan Internasional

0


Pengantar
Tulisan ini adalah apologi saya atas komentar saya di sebuah situs jejaring sosial. Kenapa apologi, karena ini adalah pembelaan saya atas kata-kata saya, yang saya sadari sulit untuk saya lempar ulang di situs tersebut.

8 Maret lalu adalah peringatan 100 tahun hari perempuan internasional. Perayaan ini bukan tanpa sebab, ini adalah penghargaan atas perjuangan perempuan biasa yang meretas sejarah, sebuah perjuangan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. 100 tahun yang lalu pada tanggal 8 Maret 1911, untuk pertama kalinya hari perempuan sedunia diperingati (meski tentu saja perjuangan perempuan tidak dimulai dari tahun itu) di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki turun ke jalan menuntut hak untuk ikut serta dalam pemilu dan posisi di dalam pemerintahan , mereka menuntut hak bekerja, kesempatan memperoleh pelatihan, dan penghapusan diskriminasi dalam pekerjaan. Peringatan ini tentu saja penghargaan dan dukungan terhadap perjuangan perempuan, tidak hanya masa lalu, tapi juga masa kini dan masa yang akan datang. Perjuangan itu masih berlanjut.


Berikut adalah apologi saya:

Harapan di "hari Perempuan Sedunia" : semoga tahun depan atau tahun ini ada yang mencetuskan "Hari Laki-Laki Sedunia"


harus ada sejarahnya kenapa, jangan terus karena perempuan punya hari perempuan dan laki-laki mempertanyakan harinya..


Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, bahwa butuh waktu berabad-abad bagi perempuan untuk mendapatkan haknya (hak memilih, hak bekerja, hak atas pendidikan, dsb), karena tentu saja laki-laki telah lebih dahulu mendapatkan haknya. Hari perempuan adalah penghargaan serta dukungan bagi perjuangan perempuan.

Bagaimana dengan keadaan perempuan? Berdasarkan data UNIFEM, secara global 6 dari 10 perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual. Di Indonesia, berdasarkan data Komnas Perempuan tahun 2004, terdapat 5.934 kasus kekerasan menimpa perempuan. Meski jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya, tentu saja tidak menjadi indikator bahwa kekerasan terhadap perempuan meningkat. Berdasarkan data Bank Dunia, secara global kesempatan mendapatkan pendidikan masih didominasi laki-laki, dimana 65% anak perempuan tidak sekolah. Di Indonesia, tingkat kematian ibu masih cukup tinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup, yang masih menjadi salah satu yang tertinggi di kalangan negara-negara ASEAN (Kompas). Berdasarkan data World Bank di tahun 2002, angka melek huruf perempuan adalah 86%, sementara laki-laki 94%. Juga lebih pendeknya jumlah waktu rata-rata sekolah perempuan daripada lelaki (6,5 berbanding 7,6 tahun).

Hari perempuan bukan sekedar simbolis saja, namun penghargaan serta dukungan bagi perjuangan perempuan, untuk kondisi yang lebih baik. Dan, masihkah anda bertanya mengapa? Ketika secara pribadi mempertanyakan diskriminasi yang mungkin pernah dialami atas nama jenis kelamin, mungkin anda bisa berefleksi sendiri. Pernahkah anda diperlakukan tidak adil, hanya karena anda laki-laki atau perempuan? Menjadi teringat diri saya, dalam sebuah acara keluarga ketika saya kecil. Saya iri dengan saudara laki-laki saya yang bisa bermain, sementara saya dan (tentu saja) saudara-saudara perempuan saya yang lain harus membantu memasak dan mempersiapkan makanan.

"Hari Perempuan Men-traktir Sedunia" .....

Sengaja saya menanggapi joke ini. Di Indonesia, jumlah remitan PRT migran (yang semuanya adalah perempuan) mencapai 7,135 miliar dolar AS (lebih lanjut bisa dibaca di sini) Jumlah yang tidak sedikit, bahkan penyumbang devisa negara terbesar kedua. Uang dari cucuran keringat perempuan tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan. Jadi, tidakkah merasa sudah 'ditraktir' perempuan. Ini tentu saja belum termasuk dengan pekerjaan tidak berbayar (baca: reproductive work) yang dilakukan perempuan.