Wednesday, June 30, 2010

Islam in the Globalising World

0

Hari ini saya mengikuti seminar Islam in the Globalising World, there are some points that I'll share...

Perbincangan mengenai Islam dan dunia Barat tampak mengemuka semenjak berakhirnya perang dingin. Ini tidak lepas pula dari tesis Samuel Hutington dalam bukunya yang fenomenal, "Benturan Antar Peradaban", dimana setelah komunisme berakhir, musuh Barat adalah Islam. Tesis ini tampak menuai kebenaran ketika belakangan bermunculan banyak kasus terorisme. Islam kemudian berubah menjadi agama yang sarat dengan kekerasan.

Fobia terhadap Islam dan juga stigma negatif tentang Islam pun merebak, terutama di dunia barat. Stigma

Thursday, June 17, 2010

Rame-rame Ngomong Tentang Video Porno

4

Mendadak pembicaraan tentang video porno menjadi marak, ketika terdapat video porno mirip ariel - luna maya dan cut tari. Padahal rasanya video porno/ mesum bukan suatu hal yang baru lagi. Namun saat ini, rasanya semua orang menjadi membincangkan hal tersebut. Hal ini kemudian diikuti dengan tindakan razia, dari razia hp para pelajar, di warnet atau di toko-toko VCD. Hal ini membuat saya berpikir betapa 'latah'nya bangsa ini. Rasanya sudah sering menjumpai sesuatu yang sebenarnya telah lama ada, namun karena adanya suatu peristiwa, kemudian semuanya berbicara tentang hal itu. Sehingga pertanyaannya adalah kemana saja selama ini? Atau ketika rame-rame menghujat, diam-diam mencari dan melihatnya secara terus menerus..

Membincangkan hal ini, saya menjadi teringat empat tahun lalu saya melihat seorang anak kecil, kira-kira berumur 10 tahun membeli tabloid ****, dengan gambar-gambar yang vulgar. Entah untuk dia atau disuruh orang lain, namun rasanya saya tidak bisa menerima hal itu. Bagaimana bisa seorang anak kecil memiliki akses untuk membeli atau memiliki media yang isinya tidak sesuai dengan umurnya.


Menghujat tentu saja tidak akan menyelesaikan masalah. Lalu bagaimana dengan razia? tindakan semacam ini tentu saja juga kurang efektif karena tidak menyentuh ke akar permasalahan. Dan apakah dengan razia sudah bisa menyentuh kesadaran hakiki seseorang? Rasanya tidak.

Segala sesuatu berpulang pada masing-masing individu. Demikian halnya dengan seks bebas, yang menjadi suatu hal yang tidak terelakkan lagi dewasa ini, ketika batas-batas negara luluh dan betapa sangat mudah sekali budaya asing masuk. Ditambah lagi masifnya arus informasi dan komunikasi. Menurut saya, yang terpenting adalah bagaimana masing-masing individu mengerti dan memahami apa yang dilakukan dan bagaimana konsekuensinya.

Sehingga penting artinya pendidikan seks, terlebih ketika seks dipandang sebagai suatu hal yang tabu diceritakan dan menganggap seseorang akan mengetahui itu pada waktunya.


Friday, June 11, 2010

Kesederhanaan

0

"Bersyukur itu bukan hal yang mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan..."

"Make it simple," rasanya kalimat itu seringkali kita dengar. Bagi saya yang kadang membuat segala sesuatu menjadi 'complicated' tentu saja terdengar sulit. Bahkan hingga kini.

Terkadang kesederhanaan dan bersyukur bisa ditemukan di orang-orang yang mungkin tidak kita duga. Dalam perjumpaan saya dengan beberap orang, saya mendapatkan pelajaran tentang hal tersebut. Tentang betapa hidup yang tidak mudah, dan betapa kesederhanaan dan rasa bersyukur itu tetap bisa dihadirkan.



Tuesday, May 18, 2010

Menjadi Tua

2


"Aku ingin hidup seribu tahun lagi," demikian kata Chairil Anwar dalam salah satu puisinya. Lain lagi dengan Gie yang berkata, "beruntunglah mereka yang mati muda." Apapun itu, menjadi tua adalah sesuatu yang pasti terjadi.


Menjadi tua rasanya menjadi momok bagi sebagian orang. Hal ini kemudian ditangkap oleh industri dan dunia kesehatan, untuk memperlambat penuaan. Entah itu operasi plastik, obat untuk mengencangkan kulit, dsb. Namun menjadi tua toh suatu hal yang tidak bisa dielaakkan dalam perjalanan hidup manusia.

Semua orang mendambakan masa tua yang sehat dan akhirnya dapat mengakhirinya dengan damai. Rasanya tak seorangpun yang tidak menginginkan hal tersebut. ketakutan menjadi tua pun bercampur dengan harapan.

Monday, May 10, 2010

haruskah dengan kekerasan..?

0



Dalam perjalanan menuju Jakarta di sebuah gerbong kereta, tiba-tiba dikejutkan tangis seorang anak yang mungkin berumur 3-4 tahun. Mau tak mau perhatian teralih ke sana. Entah apa yang menjadi musababnya, yang menjadikan anak tersebut menangis. Yang saya ketahui beberapa saat kemudian sang ibu menyentil telinga anak tersebut. Yang tentu saja hal ini makin menambah kencang isak tangisnya.

Hal tersebut tidak berhenti di situ. Tangis sang anak belum juga reda. Ibunya mengancam akan meninggalkan dia sendiri di kereta dan mengatainya nakal. Anak tersebut masih menangis dan menolak untuk dekat-dekat dengan ibunya.

Saya menjadi teringat dengan pengalaman saya 3 tahun yang lalu saat saya berada di sebuah angkot di kota Bandung. Naiklah seorang ibu dengan putrinya yang berumur kurang lebih 6-7 tahun. Sang anak kelihatannya sangat aktif dan dia tiba-tiba menjulurkan tangannya ke jendela. Mengetahui hal tersebut sang ibu marah dan langsung menampar anaknya. Kami semua kaget menyaksikan hal tersebut.

Tidak hanya itu saja, di sebuah permukiman padat penduduk rasanya kekerasan menjadi bagian dari proses pengasuhan anak. Ketika anak dinilai nakal, tidak jarang pukulan dilayangkan. Akibatnya, tidak heran jika kekerasan menjadi bagian dari tingkah laku anak-anak ini.

Haruskah dengan kekerasan dalam upaya mengasuh atau mendidik anak? Saya percaya, tidak ada anak yang serta merta terlahir nakal. Saya juga tidak setuju dengan pelabelan 'anak nakal' dsb, ini tentu akan membawa dampak psikologis bagi anak.

pengalaman kuliah di AIT (part 1)

0

Seperti yang sudah diinfokan oleh Student Union, bahwa akan ada yang menjemput di bandara jadi saya tenang-tenang saja. Sampai di bandara Swarnabumi yang sangat jauh berbeda dengan bandara Soeta, saya segera menuju pintu keluar dan benar saja sudah ada mahasiswa AIT di sana. Bodohnya saya, karena wajah mereka hampir mirip dengan orang Indonesia dengan pedenya saya sapa dengan bahasa Indonesia (sampai sekarang saya masih tertawa terbahak-bahak ingat kejadian ini). Tentu saja orang tersebut bingung, dan saya menyadari kalau kami berbeda kewarganegaraan dan segera saja menggunakan bahasa Inggris. kadang berpikir anehnya, kami sesama orang Asia Tenggara, tapi berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Uniknya, setiap mahasiswa yang datang diberi bunga yang dijadikan bros. Kami harus menunggu mahasiswa lain yang datang dan kemudian baru bersama-sama menuju AIT. Ada dua orang mahasiswa baru yang datang bersama saya pada saat itu, mereka dari Vietnam dan Perancis. Yang terakhir ini, saya jadi mempunyai kesempatan untuk mempraktekkan bahasa Perancis saya terbatas namun lebih baik daripada sekarang. Karena mahasiswa baru lain kedatangannya sangat terlambat, jadi kami bertiga diantarkan terlebih dahulu ke AIT menggunakan taksi.

Pertama kami menuju Sodexo, setelah itu kami diberikan kunci dorm sementara. Saya mendapatkan kamar di Dorm F (saya lupa nomor dormnya). Begitu sampai di dorm, saya cukup shock melihat keadaannya, terutama kamar mandinya. Benar-benar di luar dugaan saya. Butuh waktu beberapa saat untuk kemudian dapat menikmati keadaan tersebut. Namun tentu saja, saya masih tidak bisa menikmati keadaan kamar mandinya.

Dorm sementara yang saya tempati itu adalah dorm standar. Kamar mandi dan toilet terpisah dan masing-masing spacenya sangat sempit, dan share dengan tetangga kamar (1 orang).Tidak banyak fasilitas yang didapat di dorm standar, kamarnya cukup sempit, tanpa AC (hanya ada fan). Esoknya saya ikut mengantri untuk pembagian dorm, dan saya mendapatkan dorm N. Keadaan di Dorm N, jauh lebih baik daripada di dorm standar. Meski fasilitas kamar mandi masih share, namun kamar mandinya jauh lebih baik. Kamarnya cukup luas, meski tidak ada AC (hanya ada fan). Karena kamar saya berada di lantai dasar, jadi tidak terlalu panas. Setiap hari selasa (jadwal tiap dorm berbeda-beda) akan ada petugas dari Sodexo yang datang membersihkan kamar dan mengganti sprei. Setiap kamar memiliki fasilitas telepon dan internet, hanya saja tidak disediakan kabel internetnya (jadi untuk kabel harus beli sendiri).

Saturday, May 08, 2010

beasiswa, tiket lanjut sekolah

0

Melanjutkan kuliah lagi adalah salah satu impian saya, tidak heran jika saya selalu berburu info beasiswa. Beberapa kali mengirimkan lamaran beasiswa, hingga akhirnya saya mendapatkannya. Ini sudah pernah saya posting dalam tulisan saya sebelumnya, bisa dilihat di sini. Tidak hanya itu, belajar sesuatu yang menarik bagi kita tentu saja menjadi nilai tambah tersendiri. 

Perjuangan mendapatkan beasiswa tidak gampang dan ketika telah mendapatkannya masih ditambah dengan usaha memperoleh izin yang tentu saja tidak mudah. Saya baru mendapatkan izin resminya dua hari sebelum saya berangkat.Geleng-geleng kepala sendiri dengan hal ini. 

Pengalaman saya apply beasiswa, ada beberapa hal yang saya pelajari yaitu: Simpan semua dokumen. Meski mungkin kita tidak diterima, ada sisi positifnya yaitu kita mempunyai semua dokumen yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa (karena biasanya syaratnya tidak jauh berbeda). Tinggal dimodifikasi sedikit, sudah siap dikirimkan lagi dan kita tidak memerlukan waktu lama untuk mengumpulkan segala macam persyaratannya. Ikut tes TOEFL atau IELTS. Semua beasiswa mensyaratkan nilai TOEFL atau IELTS tertentu, jadi kalau tidak dari sekarang mengetahui skor TOEFL atau IELTS kita, bagaimana bisa mendaftar beasiswa? Ini juga penting untuk mengatahui apakah score kita sudah masuk kualifikasi atau belum, jika belum masih ada kesempatan untuk menambahnya. Jika ingin apply beasiswa tertentu misal BGF, jangan ragu untuk segera ikut kursus Bahasa Perancis dan tes DELF karena akan menjadi nilai tambah bagi anda. Promosikan diri anda. Intinya adalah bagaimana meyakinkan pihak pemberi beasiswa bahwa anda layak mendapatkan beasiswa. Ini tentu saja harus tercover di CV ataupun di motivation letter anda.

Thursday, April 08, 2010

Pajak dan Kemiskinan

2


Penyimpangan terkait dengan masalah pajak akhir-akhir menjadi berita yang selalu muncul di berbagai media. Hal ini bermula dari kasus Gayus Tambunan, pegawai pajak golongan 3A yang memiliki jumlah tabungan mencapai 28 milyar rupiah. Suatu jumlah yang sangat fantastis.

Terkait dengan penyimpangan pajak, hingga kuartal I-2010 Ditjen Pajak telah menindak sejumlah 278 aparat pajak orang yang diberikan sanksi ketidakdisiplinan (Vibiznews). Sementara itu terkait dengan penyimpangan pajak bea cukai, pada tahun 2001 negara mengalami kerugian sebesar Rp 55 triliun (Indosiar).

Pajak merupakan salah satu instrumen untuk menjadikan suatu negara bisa eksis. Bagaimana tidak, karena melalui pajak pembangunan di suatu negara dapat diselenggarakan dan hampir semua negara di dunia mengandalkan pajak untuk mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara mereka. Intinya adalah, pajak menjadi salah satu sumber pendapatan negara.

Sebagai salah satu sumber pendapatan negara, pajak menjadi salah satu upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Melalui pajak didapatkan dana untuk menjalankan program-program kemiskinan. Hal ini penting mengingat masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia dan sekaligus upaya untuk mencapai tujuan MDGs.

Beberapa waktu lalu gencar dilakukan pemberitahuan mengenai kewajiban untuk membayar pajak. Hingga kata-kata "apa kata dunia" menjadi sangat populer. Pajak sebagai elemen penting dalam pembangunan nasional memerlukan kesadaran semua warga negara untuk taat dan patuh membayar pajak sesuai kewajiban.

Namun demikian, melihat persoalan saat ini yang menyeruak, kewajiban warga negara untuk membayar pajak harus diimbangi pula dengan bersihnya aparat pajak dalam mengemban tugasnya, sehingga uang yang sudah terkumpul dapat tersalurkan dengan baik. Menilik kasus penyimpangan pajak, bayangkanlah apabila uang tersebut digunakan dalam pos-pos penanggulangan kemiskinan.

Berdasarkan data sebelumnya, yakni terdapat kerugian negara sebesar 55 triliun rupiah. Apabila jumlah ini menjadi dana stimulan masyarakat miskin untuk berusaha atau mengembangkan usaha. Tentu saja dapat mengurangi jumlah penduduk miskin di Indonesia. Ini artinya, penyimpangan yang terjadi tidak saja merugikan negara, tetapi juga mengambil hak-hak orang lain. Apabila hal semacam ini terus-menerus berlanjut, tentu saja akan menghambat upaya penanggulangan kemiskinan.



Thursday, April 01, 2010

Anak Belajar Dari Lingkungannya

2


Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan berita tentang SW, anak berumur 4 tahun yang merokok dan berbicara cabul. Hal ini lantas menjadi keprihatinan banyak pihak. Dalam realitasnya, boleh jadi ada SW-SW yang lain. Fenomena ini sebagaimana fenomena gunung es, ada kasus yang terungkap namun masih ada kasus-kasus yang lain.

Saya menjadi teringat kutipan dari Doroty Low tentang bagaimana anak belajar. Anak belajar dari lingkungannya. Ini artinya, lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak, karena seorang anak tidak akan serta merta memiliki sifat atau kepribadian tertentu.




Sebagaimana dengan hal yang saya temui di sebuah daerah di ujung kota Jakarta. Di sebuah permukiman padat penduduk nan kumuh, fenomena anak yang acapkali berbicara cabul atau memaki adalah suatu hal yang biasa saya temui. Apabila ditarik lebih lanjut ke lingkungan tempat anak tersebut berada, orang dewasa di sana memang terbiasa memaki dan bahkan memukul anaknya. Judi, minuman keras dan perkelahian adalah hal yang lumrah ditemui anak-anak.

Lingkungan tersebut telah ikut andil dalam memberi pengaruh terhadap sifat dan perilaku anak. Lingkungan semacam inilah yang dinamakan lingkungan tidak ramah anak. Sebagaimana diatur dalam Konvensi Hak Anak yang telah dirativikasi oleh pemerintah, anak memiliki 4 hak dasar, yaitu hak hidup, perlindungan, tumbuh kembang dan partisipasi. Ini artinya, adalah tugas dan kewajiban orang dewasa untuk memastikan hal tersebut terpenuhi. Termasuk pula memastikan lingkungan yang kondusif terhadap tumbuh kembang anak.

Adalah tugas kita semua sebagai orang dewasa untuk mewujudkan lingkungan ramah anak, dimana anak dapat tumbuh kembang dengan baik dan mendapatkan perlindungan. Ketika kita mengharapkan anak menjadi pribadi yang baik dan santun, maka penting bagi kita untuk menjadi pribadi yang santun dan baik. Anak belajar dari contoh, dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar.

Kasus SW perlu direfleksikan pada pribadi kita masing-masing, bagaimana kita memperlakukan anak dan perilaku kita sehari-hari.

Tuesday, February 09, 2010

3 Days in Ho Chi Minh

6

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya jadi juga berangkat ke Ho Chi Minh. Saya mendapatkan tiket yang lumayan murah dengan Air Asia (thanx to Air Asia), yang sudah saya pesan dari tahun lalu. Saya mendapatkan tiket Rp 750.000,- pp.

Hari pertama
Jakarta - Ho Chi Minh ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. 3 Jam kemudian, sampailah saya di Bandara Than So Nhat. Dibandingkan dengan Soekarno Hatta, Bandara Than So Nhat lebih bagus, mungkin karena bangunannya yang lebih baru. Bandara ini terdiri dari bandara domestik dan internasional. Begitu tiba di sana, kami mengurus keimigrasian, Vietnam termasuk negara bebas visa.

Kami kemudian menukarkan uang di money changer bandara. Kurs saat itu 1US$ adalah 18.300 dong. Saya hanya menukar 10 US$ untuk membayar taksi. Menukarkan uang secukupnya saja di bandara, karena money changer di luar memberikan penawaran yang lebih bagus. Iseng saya menanyakan, apabila saya menukarkan rupiah ke dong. Menurut petugasnya, Rp 1.000,- sama dengan 1.000 dong (wah rugi betul kalau saya menukar rupiah ke dong, karena 1 US $ : Rp 9.500,- atau 18.300 dong. ini artinya 1 dong = Rp 1,9).

Dari Bandara ke Ho Chi Minh sebenarnya bisa menggunakan bus nomor 152, namun bus ini hanya beroperasi hingga jam 7 malam. Karena saya sampai pukul 8 malam, saya memutuskan untuk memakai taksi. Dari terminal internasional, saya menuju ke terminal domestik dan mencari taksi. Sesuai dengan informasi yang didapat di internet, ada beberapa pilihan taksi yaitu Vinasun dan Mailinh. Kami akhirnya memakai taksi Vinasun. Taksi di Vietnam ada yang kecil dan besar. Untuk taksi yang kecil (bentuknya seperti taksi di Indonesia), tarif dimulai dari 9.000 dong. Sementara taksi yang besar (avanza) tarif dimulai dari 9.500 dong. Kalau jumlah kalian banyak, lebih baik menggunakan taksi yang besar, karena bisa muat 5 orang. Jangan lupa untuk meminta menggunakan taximeter (argo).

Orang Vietnam jarang yang bisa berbahasa Inggris, even seorang sopir taksi. Demikian halnya sopir taksi yang kami tumpangi, jadi untuk berkomunikasi menggunakan kertas (jangan lupa membawa notes kecil dan pulpen, akan sangat membantu). Kami menuju Bu Vien, di Distrik 1, kawasan backpacker di Ho Chi Minh. Sopir taksinya sempat bingung ketika kami menyebutkan Bu Vien (ternyata karena pengucapannya berbeda, dia baru mengerti setelah kami tulis bu vien di notes).. Setelah beberapa menit, akhirnya kami tahu bahwa dia bernama Hay (nguyen Hay), dia memberi kami untaian melati yang ada di taksinya. nice...

Bu Vien merupakan daerah kawasan backpacker. Di sana kami mencari penginapan, sempat menemukan penginapan "blue river" sebagaimana yang kami baca di internet. Tarif di Blue River US $ 25, menurut informasi di internet, bisa mendapatkan hotel dengan harga 8 - 15 US$, maka kami hunting kembali. Dan akhirnya sampailah kami di hotel My Home, dengan tarif US$ 15. Kamar yang kami sewa cukup bersih dan fasilitasnya cukup lengkap, yaitu air hangat, TV, AC dan wifi tanpa breakfast. Kamar tersebut kami sewa berdua, meski sebenarnya bisa untuk 3 orang. Kamar kami memiliki balkon dan di dekat balkon terpasang bendera Vietnam, bendera gambar palu arit dan gambar bintang.

Usai mendapatkan hotel, kami pergi ke Tour Travel (Tour Travel yang direkomendasikan di internet adalah Sinh Travel). Namun ketika kami menukarkan uang ke money changer, Sinh Travel sudah tutup. O ya di Money Changer kami mendapatkan penukaran 1 US$ = 18.500 dong. Akhirnya kami memilih menggunakan AP travel, dan memesan paket tour Mekong 1 hari (ada beberapa pilihan untuk paket sungai Mekong, yaitu tour 1 hari, 2 hari dan 3 hari). Kami membayar 144.000 dong untuk dua orang, tapi setelah ada tawar menawar kami membayar 140.000 dong saja. Tiket bisa juga dibayar dengan dolar, namun ketika dihitung-hitung, ternyata lebih murah membayar dengan dong (penting juga untuk membawa kalkulator, untuk membandingkan lebih murah membayar dengan dollar atau dong).

Setelah mendapatkan tiket untuk tour, kami mencari makan malam. Bagi para muslim, agak sulit mencari makan karena kebanyakan di sana menunya adalah pork. Untunglah kami masih mempunyai roti yang kami beli di Soekarno Hatta. (Penting untuk membawa roti untuk sekedar mengganjal perut karena agak sulit mencari makanan halal).


Penasaran dengan pho, kami memesan pho tidak jauh dari tempat kami menginap. Pho yang kami pesan adalah pho vegetarian (tanpa daging) plus 1 gelas es teh, yang cukup kami bayar 34.000 dong untuk 2 porsi pho dan es teh. Untuk air minum, kami membeli aquavina ukuran 1 liter 5.000 dong dan ukuran 700 ml, 3.000 dong. Di minimarket 999 yang letaknya dekat dengan crazy bull, kami mendapatkan air mineral merek travel dengan harga 3.000 dong, sementara untuk ukuran 1 liter harganya lebih mahal 1.000 dong. Di sana kami menemukan penjual ketan. Penasaran dengan ketan yang dijual oleh penjual di dekat travel tour, kami membelinya dengan harga 1 porsi 5.000 dong. Ketannya berwarna-warni, kemudian ditaburi dengan irisan keju. Sempat juga tertarik dengan penjual sate, tapi ternyata yang dijual adalah sate pork (ugh......).


Hari Kedua

Sungai Mekong Tour 1 hari dimulai pukul 08.00 WIB. Dari AP tour kami ditransfer ke Vina Tours. Pertanyaan kami terjawab sudah, ternyata untuk tour travel yang kecil-kecil akan mentransfer pelanggannya ke tour travel lain. Kami berangkat pukul 9.15 WIB, sangat terlambat.. Tour guidenya bernama Ngok, namun karena kesulitan menyebut namanya, jadi dia menyebut dirinya number 1. Kami berdua adalah dua-duanya orang Indonesia di tour tersebut.

Dari Ho chi Minh, kami naik bus yang akan mengantar kami ke sungai mekong, 2 jam kemudian, kami tiba di tempat yang seperti dermaga, dan naik perahu boat.