Thursday, May 16, 2013

Semua Berawal dari Keluarga

0

Halo Takita...
Kakak sudah baca surat Takita, wah Takita makin pandai saja ya.. Jadi gemes nih, hehehe... Maaf ya baru sempat membalas surat Takita, kemarin kakak sibuk mengerjakan thesis. Untungnya sekarang sudah selesai, jadi bisa cerita-cerita sama Takita...  ini nih thesis kakak... akhirnya selesai juga setelah berbulan-bulan penuh perjuangan.



Membaca surat Takita, kakak jadi teringat masa kecil kakak dulu. Bapak dan ibu kakak juga yang pertama kali mengajari membaca dan menulis; hanya saja zaman kakak dulu belum ada handphone dan blog, jadi kakak belajar menulisnya di buku saja. Waktu sudah bisa menulis, kakak suka sekali membuat daftar kata-kata berdasarkan jumlah suku katanya. Orang tua kakak selalu menemani kakak, dan memberi tahu kosakata-kosakata baru ketika kakak sudah kehabisan perbendaharaan kata. Ketika kakak mulai bisa membaca, setiap keluarga kakak pergi ke rumah makan, bapak dan ibu kakak selalu meminta kakak untuk membacakan menunya, tidak peduli berapa lama waktu yang kakak butuhkan untuk membacanya. Hasilnya, kakak menjadi lancar membaca dan memiliki banyak perbendaharaan kata.

Takita pernah mendapatkan hadiah dari ayah dan ibu Takita ketika Takita jadi juara kelas? Ketika masih di Sekolah Dasar,  Bapak kakak berkata, beliau akan membelikan kakak sepeda jika kakak rangking 20, sementara kalau kakak rangking 1, akan mendapatkan es krim. Jauh sekali ya bedanya..? Kakak merasa aneh, bagaimana tidak, mengapa menjadi juara kelas hanya mendapatkan es krim, sementara tidak menjadi juara kelas mendapatkan sepeda. Namun dari situ kakak belajar untuk tidak mengharapkan sesuatu dari apa yang sudah dikerjakan. Sampai sekarang, kakak terbiasa melakukan sesuatu karena kakak menginginkannya, bukan karena sesuatu yang nantinya kakak dapatkan. Ini juga yang membuat kakak lebih menghargai proses dibanding hasil akhir. Hasil akhir bukanlah masalah, yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk meraihnya. Sama seperti ketika kita belajar suatu pelajaran, yang penting adalah bagaimana kita bisa menguasai pelajaran tersebut, bukan nilai yang kita dapatkan.


Dari dulu kecil, orang tua kakak tidak pernah membeda-bedakan sesuatu berdasarkan gender. Waktu kecil, orang tua kakak membolehkan kakak bermain boneka, masak-masakan, dan juga bermain bola atau perang-perangan. Bahkan Bapak kakak pun mengajari kakak memperbaiki genteng rumah yang bocor, meski kakak seorang perempuan. Melalui keluarga kakak belajar bahwa, apapun itu gender/ jenis kelaminnya bukan menjadi halangan untuk melakukan sesuatu. Tentu Takita pernah mendengar tentang diskriminasi karena gender bukan? Dimana seseorang mendapatkan perlakuan diskriminasi karena dia terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Kakak yakin, jika di semua bidang, termasuk keluarga, setiap anak  belajar untuk menghargai satu sama lain dan juga keadilan gender; tentunya keadilan gender dan juga penghargaan terhadap tiap individu bisa terwujud. 


Di sekolah, kakak banyak mendapatkan pengetahuan dan pelajaran, pastinya Takita begitu juga kan? Namun bagi kakak, di keluargalah kakak belajar ilmu hidup. Keluarga memiliki banyak andil, bagaimana  kepribadian kakak terbentuk. Rasa-rasanya apa yang dikatakan Max Kazeronnie benar jugathe primal and the best education start from the family. Bagaimana Takita? Pasti Takita setuju kan? Seperti yang Takita bilang, kalau Takita mulai belajar mendengar, berbicara, membaca, menulis dan cara bersikap ke teman atau saudara, dari keluarga. Keluargalah tempat pertama kita belajar dan melalui pendidikan keluarga yang baik, tentunya akan berpengaruh positif pada diri kita.

Sama seperti Takita, kakak juga punya mimpi agar semua anak mendapatkan pendidikan terbaik di keluarga. Apalagi ketika kakak membaca beberapa kasus seperti kekerasan oleh gang motor, penyalahgunaan narkoba, dsb; dengan pendidikan yang baik di keluarga, bisa memberikan pondasi yang kokoh untuk kepribadian seseorang. Dan pada akhirnya generasi muda yang berkualitas akan tercipta, ini tentunya impian kita semua bukan..?

Ini cerita kakak tentang pendidikan yang kakak dapat di keluarga kakak. Oke Takita, sampai bertemu di surat selanjutnya ya...


salam,
ria

Posting ini diikutkan Program Keluarga dan Pendidikanku oleh Takita dan BlogFam  



”Lomba

Sunday, May 05, 2013

mengingat kartini, mengingat perempuan Talang Mamak

1



.. sekedar catatan di hari Kartini..

Terlepas dari segala kontroversi tentang mengapa hari Kartini, mengapa Kartini, dsb; menurut saya Kartini adalah sosok perempuan yang patut diteladani. entah berjuang dengan pena, senjata, dsb; perempuan berkontribusi dalam sejarah bangsa ini. yang membedakan Kartini adalahdia menulis... 

perjumpaan saya dengan perempuan Talang Mamak dan mengenal mereka lebih dekat dimulai ketika penelitian saya berlangsung.

Kartini memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, namun di Talang Mamak pendidikan adalah hal yang sulit, bagaimana tidak sekolah dasar ada di sana (Durian Cacar) di tahun 1997. Inipun tidak bisa diakses oleh semua masyarakat. Seorang gadis kecil (10 tahun) berkata "ndak ada yang bawa awak ke sekolah, sekolah jauh. Orang tua awak tak bolehkan awak pegi." Pendidikan pun masih dirasa sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting bagi sebagian orang. Pun demikian tentu saja berbeda dengan situasi sebelumnya dimana perempuan tidak memiliki akses terhadap pendidikan, terkait dengan jauhnya sekolah dan realitas bahwa mereka tinggal di dalam hutan. Kini situasi berubah, masuknya perusahaan ke lokasi mereka, dibangunnya jalan, serta perkembangan daerah di sekitar mereka telah mengubah daerah mereka menjadi lebih 'terbuka'. 

Sayangnya perubahan di lingkungan mereka tidak serta merta membawa ke kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar orang Talang Mamak di Durian Cacar kehilangan tanahnya, entah dijualnya atau diambil oleh PT yang masuk ke wilayah mereka. Perempuan yang semula memiliki hak atas tanah, di beberapa kasus kehilangan haknya. Terkadang suaminya menjual tanahnya tanpa memberitahunya. bisa dibayangkan, tanpa tanah, tentu saja kehidupan masyarakat yang sulit bertambah sulit. Di beberapa kasus, perempuan menjadi lebih bergantung pada suaminya, karena sulitnya pencaharian. Dalam perbincangan saya dengan beberapa perempuan, mereka sangat takut jika suaminya meninggalkan mereka terlebih bagi mereka yang sudah tidak memiliki keluarga dekat. Ini tentunya menunjukkan bawa perempuan bukanlah single category. Latar belakang yang dimiliki memiliki andil terhadap kerentanan dan juga perilaku mereka. 




Sunday, March 17, 2013

Transgender? So What?

0

Beberapa hari yang lalu, beberapa kawan-kawan saya heboh tentang berita Renaldi Rahman (dulunya sempat menjadi artis cilik) yang menjadi transgender. Ternyata berita ini bukanlah berita baru, beberapa tahun sebelumnya juga sudah ada kabar mengenai hal ini. Menjadi transgender, so what?

Membaca beberapa komentar di berita tersebut, membuat saya mengernyitkan dahi, bagaimana tidak, hampir sebagian besar menyayangkan keputusannya menjadi trans gender, bahkan mengkait-kaitkan dengan azab. Ada pula komentar menarik yang mengatakan, jika menjad transgender dan mau diterima publik di Indonesia, harus memakai jilbab, terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, naik haji, dsb. Miris bukan

Menjadi teringat, beberapa tahun yang lalu saya mengikuti sebuah seminar tentang transgender dan homoseksual, seorang peserta adalah trans gender (laki-laki ke perempuan). Dia mengungkapkan pengalamannya, bagaimana tidak mudahnya menjadi transgender dan diterima oleh publik. Contoh kecil adalah pengalamannya tentang toilet atau ketika berkemah. Ketika menggunakan toilet perempuan, dia 'ditolak' oleh beberapa perempuan menggunakan toilet tersebut, sementara menggunakan toilet laki-laki adalah tidak mungkin karena dia merasa dirinya adalah perempuan. Demikian halnya ketika berkemah, tentang di tenda mana dia kemudian tidur. 

Sungguh tidak mudah menjadi transgender. Pun demikian tidak semua trans gender di negeri ini mendapatkan perlakuan diskriminasi. Membaca berita tentang Dena (Renaldi Denada) yang mengungkapkan pengalamannya, boleh jadi adalah pengecualian, bagaimana lingkungan di sekitarnya menerimanya dan dia pun tak mendapatkan perlakuan diskriminan. 

Heteronormativity norm
Seseorang terlahir menjadi laki-laki atau perempuan, tidak bisa keduanya. Demikian norma yang berlaku umum di masyarakat. Bagaimana proses menjadi laki-laki dan perempuan? Ketika bayi lahir, kemudian berdasarkan alat kelamin yang dimilikinya, dokter mengatakan bayi perempuan atau bayi laki-laki. Dari situlah kemudian ekternalisasi nilai tentang laki-laki dan perempuan biasanya dimulai. 

bersambung 


Friday, March 08, 2013

Catper: Macau - Hongkong (1st day)

0

Akhirnya jadi juga rencana backpacker ke Macau dan Hongkong. Tiketnya sudah dibeli sejak tahun lalu, dan sebetulnya sempat berpikir untuk membatalkan karena thesis, konferensi dan magang. Namun akhirnya jadi juga.. meski saya harus mengubah jadwal kepulangan (dari semula tanggal 5 menjadi tanggal 3 Maret). Tentunya, harus merogoh kocek lagi, semula harga tiket pp 3,900 THB, karena merubah tiket harus menambah 1,100 THB. Ini adalah solo backpacker saya kedua di tahun ini.

Perjalanan Bangkok - Macau memakan waktu kira-kira 3 jam, dan Macau 1 jam lebih dahulu dibanding Bangkok. Seperti yang sudah direncanakan, saya menginap di bandara (hasil googling, bisa bermalam di bandara). Artinya, saya bisa mengurangi budget trip ini karena harga penginapan di Macau cukup mahal. Semakin malam, banyak orang yang melakukan hal yang serupa. Bandara Macau cukup nyaman, ada beberapa kursi yang bisa dijadikan tempat untuk tidur dan juga fasilitas wifi (namun akan terputus setiap 45 menit). 

Saya sampai di Macau pukul 5 sore, jadi bisa menjelajah kota sebentar. Dari Bandara ke kota Macau cukup mudah karena ada fasilitas shuttle bus yang disediakan hotel-hotel dan casino di Macau yang bisa dimanfaatkan, dan tentunya gratis. Saya naik bus Venetian dan menjelajah the Venetian. Selama di sana, ada banyak orang Indonesia yang saya temui, hanya bersapa dengan beberapa di antaranya. Mengitari the Venetian ini mengingatkan saya pada salah satu adegan di drama F4, ketika Sanchai naik gondola bersama Dau Ming Tse. Harga yang ditawarkan untuk naik Gondola adalah 100 dollar, saya tidak mencobanya karena mahal (akhirnya belum juga kesampaian naik gondola, ketika di Venezia saya juga tidak melakukannya dengan alasan yang sama).

patung di dekat lobby utama the Venetian

in somehow, it reminds me of the memory in Venezia, Italy. I miss that city a lot


pertunjukan musik

Orang Indonesia yang saya temui di the Venetian menanyakan apakah sudah menonton pertunjukkan house of dancing water di City of DreamTertarik dengan gambaran merekasaya menuju ke City of Dreamsada shuttle bus gratis di West lobby tapi sebenarnya City of Dreams bisa ditempuh dengan jalan kaki, karena letaknya di depan the Venetian (melalui lobby utama). Sayangnya saya terlambat untuk ke sana, karena pertunjukkan selesai pukul 19.00 dan untuk melihatnya, lebih baik pesan tiket terlebih dahulu. 

Saya kemudian ke Galaxy yang juga tidak terletak jauh dari the Venetian. Ada shuttle bus gratis yang disediakan. Jika mau berjalan kaki bisa jugadari west lobby the Venetian kemudian berjalan kurang lebih 5 menit. Saya hanya di lantai dasar Galaxy dan melihat fortune diamond serta pertunjukkannya. Iseng-iseng melihat beberapa koin yang dijatuhkan di situ, saya ikut juga menjatuhkan recehan THB saya.

Fortune of Diamond @ Galaxy
saat pertunjukkan, fortune diamond akan bercahaya

Shuttle bus dari the Venetian ke bandara terakhir beroperasi jam 11 malam, karena takut tidak mendapatkan tempat, saya kemudian bergegas menuju shuttle bus ke bandara (ada di main lobby). Perjalanan saya di hari pertama hanya mengeluarkan uang untuk membeli makanan di Mc D yang ada di bandara.


Fountain show at Wynn Hotel Macau
Sunday to Friday: 11:00 am to 9:45 pm
Saturday and eve of public holiday: 11:00 am to 10:45 pm
Each show lasts approximately three minutes and runs alternately at 15 minutes intervals

Fortune of Diamond at Galaxy Hotel
Galaxy Hotel Lobby at the Cotai Strip
Sunday to Thursday: 10 am - 12 am
Friday to Saturday: 10 am -2 am


Thursday, January 03, 2013

gamer girl manifesto

0

this is from my assignment ;)
----






Today I came across to a video in youtube, gamer girl manifesto by SexyNerdGirlPresents. It is a manifesto of female gamers telling not to sexualize them for their existence in the game world. It is not only embrace that sexist is not acceptable, but also suggest not to be homophobic and racist. In the end they questioning ”you know what kind of player they are and what kind of player you are.”
Don’t be racist. Don’t be homophobic. Don’t be sexist. Follow that code and everybody will have a good time. And when someone breaks that code, CALL THEM OUT. Don’t just let it ride.
I think it is an interesting video and have great message. The female gamers in that video are quite diverse which also represent that female gamer are heterogeneous.  However there are quite few differences from people who like it and dislike it. There are 13,689 likes and 10,560 dislike and most of the comments are negative. Mostly people said that in the online game gender does not matter, because the important thing is how u play. Is that really happen? I do not think so.
When I am playing online game, I never get harass but I can not generalize my experience with others. In my online field work, I did it in the online game (AIKA) and asked the experience of female gamer. One female gamer said that when people know she is female, they start to bully her. Another female gamer told me why she use male character, because she don’t want to get harass by other gamer. It means, that choosing male character seems to be a safe way for the female gamer to avoid harassment.
Then I tried to find out the female gamer’s experience in the online game, and I found an interesting blog by Jenny Hariver titled not in the kitchen anymore. Her blog documented her experience when playing games, included  sexism in the online game.
Further, in her blog, Valerie who made that video told the reason of that video as well as why she choose sexynerdgirl as her account name. This is interesting since her choice to use sexynerdgirl have raise controversy and even people start to accuse her, she tried to get attention by using that kind of name.
I do support that in the gaming culture, the culture of non-sexist, non-racism and non homophobic should be embraced and that video not only mention about sexism! In the game world which is stereotypically male dominated area, it is possible that sexist behavior exist in the gamer community.  Further, the game which using sexy female avatars may also contribute on it.

Pekan Kondom Nasional: Masihkah Kondom Menjadi Kontroversi?

1

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom) yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), masih menjadi salah satu tangan global yang dihadapi saat ini. AIDS pun disebut-sebut sebagai penyebab kematian nomor tiga di dunia (UNAIDS, 2001). Berdasarkan data UNAIDS (2012), pada tahun 2011, sekitar 34 juta orang hidup dengan HIV. 2.5 juta diantara baru terinfeksi dan 1.7 juta orang meninggal akibat AIDS. Berikut merupakan data perkiraan jumlah orang dengan HIV di beberapa negara:

Dari data tersebut, Indonesia berada di urutan ke-17 untuk jumlah orang dengan HIV di tahun 2011. Yang mencengangkan adalah adanya peningkatan cukup signifikan pada tahun 2001 dan 2011, dari 12,000 menjadi 380,000 atau meningkat 96.8%. Dalam Global Report 2012 yang dikeluarkan UNAIDS tersebut, Indonesia bersama 8 negara lainnya (Bangladesh, Georgia, Guinea Bissau, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Filipina, Republik Moldova dan Srilangka) termasuk dalam negara dengan tingkat infeksi HIV untuk kategori umur 15-49 tahun, meningkat lebih dari 25%. Lebih khususnya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (2012), kasus HIV dan AIDS dari tanggal 1 April 1987 – 30 September 2012 adalah 92,251 untuk jumlah kasus HIV dan 39,434 untuk kasus AIDS.

Untuk menggalang kepedulian tentang AIDS, tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS Dunia. Di Indonesia sendiri di tahun 2012, untuk keenam kalinya diselenggarakan Pekan Kondom Nasional. Penyelenggaran Pekan Kondom Nasional, meskipun bermaksud untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat penggunaan kondom dalam hubungan seks beresiko; menuai kontroversi. Pekan Kondom Nasional disebut-sebut sebagai kondomisasi dan dianggap ikut melegalkan seks bebas. Permasalahannya adalah, meskipun seks bebas, prostitusi atau penggunaan narkoba suntik dilarang apakah hal itu berarti tidak ada orang yang melakukannya? Kontroversi tentang pemakaian kondom ini pun tidak hanya di Indonesia. Di Negara-negara lain pun kontroversi seputar kondom terjadi, baca di sini untuk mengetahui lebih lanjut.

Terkait dengan kasus resiko penyebab AIDS, berikut merupakan data jumlah kasus AIDS menurut faktor resiko (1987-2012):


Dari data tersebut, jumlah terbesar faktor resiko kasus AIDS adalah hubungan heteroseksual. Ini artinya, penularan HIV/ AIDS lebih banyak pada hubungan seks yang tidak aman di pasangan heteroseksual. Hal ini bisa jadi dikarenakan kurangnya pemahaman tentang bagaimana melakukan hubungan seks yang lebih aman, membuat penularan HIV menjadi meningkat. Seks yang lebih aman ini adalah kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV saat melakukan hubungan seks. Pun demikian seseorang terkena AIDS pun bukan semata karena orang tersebut sering melakukan seks bebas, bisa jadi mendapatkannya dari pasangannya yang melakukan seks bebas atau dari jarum suntik yang tidak steril. Oleh karenanya, kampanye mengenai seks yang lebih aman pun harus ditingkatkan. Selain itu, kultur budaya patriarki yang menepatkan laki-laki dalam posisi lebih tinggi dari perempuan, membuat perempuan tidak bisa bernegosiasi mengenai seks yang lebih aman. 

Meskipun kondom sendiri tidak menjamin 100% menghindarkan dari HIV/AIDS, banyak penelitian ilmiah menunjukkan kondom 80% efektif dalam mencegah penyakit menular seksual, termasuk transmisi seksual HIV. Terkait dengan seks bebas, apakah dengan tidak ada kampanye penggunaan kondom akan membuat seks bebas tidak ada? Kondom hanyalah salah satu upaya pencegahan terhadap penularan penyakit menular seksual. Artinya, kondom  bukanlah solusi untuk permasalahan tingginya tingkat HIV/ AIDS. Perlu ada upaya lain selain kampanye kondom, yang memerlukan kerjasama dari berbagai pihak. Salah satu upaya yang cukup terkenal terkait dengan pencegahan HIV/ AIDS adalah ABCDE, yaitu:
Abstinence atau tidak melakukan hubungan seksual
Be Faithful atau setia pada pasangan
Condom atau gunakan kondom ketika melakukan hubungan seks yang beresiko
no Drugs atau jangan gunakan narkoba khususnya narkoba suntik
Equipment Sterilization alias sterilisasi alat-alat yang beresiko menularkan virus HIV

Selain itu, penting adanya pendidikan seks sejak dini, sehingga bisa mencegah seks bebas di kalangan remaja dan mengurangi angka HIV/ AIDS. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan (bagi yang sudah menikah) juga menjadi salah satu hal yang penting untuk menghindari berganti-ganti pasangan atau seks bebas. Dan tentu saja yang paling utama, adalah niat dalam diri sendiri, untuk bisa mengendalikan diri tidak melakukan seks bebas dan menghindari narkoba suntik (dan tentu saja jenis narkoba yang lain). Tanpa adanya perubahan tingkah laku, tidak akan dapat mencegah AIDS. 

Fakta tingginya jumlah orang dengan HIV/ AIDS, tentu saja bukanlah hal yang harus ditutupi realitasnya atau harus dipandang sebelah mata. HIV/AIDS bukanlah semata-mata persoalan moral, namun juga persoalan kemanusiaan. HIV/ AIDS juga bukan semata-mata persoalan kesehatan tetapi juga permasalahan sosial.

Bila berpikir realistis dengan melihat realitas yang ada di lapangan tentang HIV/ AIDS, haruskah kondom masih menjadi kontroversi? Bila kemudian kondom ini dikaitkan dengan persoalan moralitas terkait dengan seks bebas, ada atau tidak ada kondom, seks bebas akan tetap ada dan yang lebih penting adalah bagaimana merubah situasi menjadi lebih baik tanpa menafikkan realitas yang ada. Kondom memang bukan cara pencegahan AIDS yang paling mujarab, karena yang paling mujarab berpangkal dari diri sendiri. Pun demikian meski ada promosi kondom atau kampanye penggunaan kondom, pemerintah tetap harus mengontrol kualitas kondom yang beredar, bukan hanya sekedar memenuhi target belaka. 

If you judge people, you have no time to love them 
(Mother Teresa)

Sunday, December 23, 2012

blog and my new blogs

0

I forgot when I started blogging, rasa-rasanya di tahun 2005. Awalnya saya terinspirasi oleh seseorang yang memacu saya untuk menulis, dan itulah juga pertama kalinya saya memakai ID bungarumput. Mungkin waktu itu masih zaman sanchai si rumput liar, tetapi bukan itu yang membuat saya memakai ID bungarumput. 

Sempat vacuum beberapa saat saya di Aceh karena tidak ada koneksi internet, kemudian saya mengaktifkan lagi blog saya bahkan mempercantiknya. Teringat saya waktu itu membeli buku tentang panduan blogging di blogspot. Keinginan untuk memilah-milah isi blog saya membuat saya memiliki sejumlah blog, lihat saja: ada yang tentang puisi, informasi, atau jalan-jalan. bahkan dahulu saya memiliki blog yang berisi catatan hidup saya, namun usianya tidak bertahan lama karena sudah saya delete. 

Managing so many blog is so difficult, it takes time, really.. Alhasil banyak blog saya yang telantar. Pun begitu, blog bungarumput masih cukup bertahan meski akhir-akhir yang lalu kebanyakan saya posting lirik lagu. Bukannya sedang galau, namun lagi ingin saja memposting lirik lagu yang sebenernya agak menyimpang dari tagline blog ini.

kini bungarumput terancam kering, hehehe... toh jika bungarumput kering akan ada mengganti. Oups bukan itu maksudnya deng... bungarumput punya saudara baru lagi... Entah kenapa saya sedang ingin menggunakan ID bukan bungarumput, so cekidod di sini ya:

Saturday, December 22, 2012

memaknai 22 desember, lebih dari sekedar hari ibu

1
























Beberapa hari sebelum tanggal 22 Desember dan hingga tanggal itu, berbagai status tentang hari ibu, yang mengucapkan terima kasih kepada ibu berseliweran di media sosial yang saya miliki, entah facebook atau twitter. Sedikit diantaranya mengurai makna lebih dalam dengan berkata hari perempuan atau hari pergerakan perempuan. Pun saya yang memasang status yang mengulik sedikit sejarah hari ibu di Indonesia dan memilih menulis "selamat hari perempuan" mengundang beberapa komentar, ada yang setuju dan ada juga yang memberikan jempol. Ini tentu saja bukan yang pertama kali, ketika saya memilih untuk alih-alih berucap hari ibu menjadi hari perempuan. 

Delapan puluh empat tahun yang lalu, tiga puluh organisasi perempuan berkumpul di Jogjakarta dalam Kongres Wanita (Perempuan) Indonesia I. 
Kongres yang membahas berbagai persoalan perempuan kala itu, kemudian menghasilkan beberapa keputusan (sumber wartafeminis.wordpress.com): 
  • mengirimkan mosi kepada pemerintah kolonial untuk menambah sekolah bagi anak perempuan
  • pemerintah wajib memberikan surat keterangan pada waktu nikah (undang-undang perkawinan; dan segeranya diadakan peraturan yang memberikan tunjangan kepada janda dan anak-anak pegawai negeri Indonesia
  • memberikan beasiswa bagi siswa perempuan yang memiliki kemampuan belajar tetapi tidak memiliki biaya pendidikan, lembaga itu disebut stuidie fonds
  • mendirikan suatu lembaga dan mendirikan kursus pemberantasan buta huruf, kursus kesehatan serta mengaktifkan usaha pemberantasan perkawinan anak-anak
  • mendirikan suatu bdan yang menjadi wadah pemufakatan dan musyawarah dari berbagai perkumpulan di Indonesia, yaitu Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI)
  • PPPI bertujuan memberikan informasi dan menjadi mediator berbagai perkumpulan perempuan di dalamnya. 

Mengulik sejarahnya, hari ibu yang ditujukan tuk mengenang pergerakan perempuan di Indonesia (hmm, agak rancu juga menulis kalimat ini, soalnya saya belum pernah membaca isi dekrit presiden no. 39/1959 yang menetapkan hari ibu itu), rasa-rasanya mengalami pereduksian makna jika lebih menjadi ucapan terima kasih pada ibu (bukan berarti saya menentang untuk mengucapkan terima kasih dan menghargai jasa-jasa ibu), namun harusnya dimaknai pula lebih luas dibanding hal tersebut. 
Dan, apakabar perempuan Indonesia...? Membaca keputusan Kongres Perempuan I tersebut, membuat saya miris. Bagaimana tidak, persoalan yang dihadapi perempuan kala itu ternyata masih dialami perempuan-perempuan Indonesia saat ini. Sebut saja pernikahan siri, pernikahan kanak-kanak, yang paling hot tentu saja kasus pernikahan salah seorang bupati di suatu daerah di Jawa. Pengalaman tinggal beberapa saat di daerah pedalaman di Sumatra, menunjukkan perempuanlah yang kebanyakan tidak bisa baca tulis (ini tentu saja sangat subjektif, karena saya hanya melihat di satu daerah saja, untuk lebih globalnya saya tidak tahu pasti tentang statistiknya). Dampak dari hal itu, perempuan yang sudah menjadi warga kelas dua, makin tepinggirkan; terkucil dari perkembangan tekhnologi (macam hp). Perempuan yang saya maksud di sini tentu saja tidak semua perempuan, karena kebanyakan perempuan muda telah bisa baca tulis. Jika melihat secara global, mungkin cukup menggembirakan. Lihat saja, banyak perempuan kini yang bekerja, mencapai tingkat pendidikan yang tinggi, memiliki jabatan tinggi, dsb, dsb, namun jika melihat lebih dalam, mungkin belum banyak berita gembira yang didapatkan..
Karenanya, saya lebih memilih untuk memaknai 22 Desember sebagi hari pergerakan perempuan ketimbang jatuh dalam pereduksian makna hari ibu.