Saturday, October 02, 2010

Tes Keperawanan Sebagai Syarat Masuk Sekolah: Kalau Tidak Perawan Tidak Boleh Sekolah?

0

"Tiap-tiap warga negara berhak atas pendidikan dan pengajaran."
(UUD 1945)


Anggota dewan dari salah satu provinsi di Indonesia mengeluarkan wacana tentang tes keperawanan sebagai syarat masuk sekolah. Hal ini menuai kontroversi, ada yang pro dan banyak pula yang kontra. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, jika saya tidak perawan, apakah saya bisa sekolah?

Berbincang tentang tes keperawanan, menurut saya menjadi sangat diskriminatif. Bagaimana tidak, karena tes tersebut hanya ditujukan kepada anak perempuan. Dan tentu saja, hal ini melanggar hak anak dan hak asasi manusia, serta sebagaimana pasal dalam UUD 1945 yang saya kutip dimuka, sangat tidak konstitusional, karena tiap-tiap warga negara berhak atas pendidikan dan pengajaran tidak peduli perawan atau perjaka, semua tanpa terkecuali.

Keperawanan perempuan dipandang tinggi di masyarakat, inilah yang kadang membuat saya tersenyum kecut. Bukankah seharusnya tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan? Apa bedanya antara laki-laki dan perempuan. Jika kemudian memandang tes keperawanan adalah solusi akan maraknya pergaulan bebas, adanya tes tersebut membuat perempuan seakan sebagai 'terdakwa' akan maraknya pergaulan bebas. Bagaimana dengan laki-laki?

Jika kemudian tes tersebut diterapkan, bagaimana dengan anak perempuan yang tidak lolos tes tersebut? Mereka akan mengalami beban agenda. Tidak bisa sekolah sudah pasti, dan bagaimana mereka mengakses pendidikan? Siapa yang kemudian bertanggung jawab atas hal tersebut? Yang kedua adalah stigma masyarakat terhadap dirinya. Anak-anak relatif rapuh dibandingkan dengan orang dewasa, dan sudah pasti beban mental dan psikologis yang ditanggungnya dapat berakibat pada kejiwaannya. Dan ini hanya akan dialami oleh anak perempuan...

Terkait dengan tingginya pergaulan bebas di kalangan remaja yang sangat dikhawatirkan para orang tua, tes keperawanan sebagai syarat masuk sekolah bukanlah solusi yang bijak. Hal ini justru mengarah pada diskriminasi dan merugikan anak. Bukankah sebagai orang dewasa kita harus memikirkan yang terbaik untuk anak? Pendidikan seks untuk remaja dapat menjadi alternatif yang bijak dalam menangkal maraknya pergaulan bebas, terlebih di tengah masifnya terpaan informasi dan komunikasi melalui media massa yang dapat dengan mudah diakses oleh semua orang.

TOLAK TES KEPERAWANAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT MASUK SEKOLAH

Related Posts:

  • membincangkan poligamiSelama beberapa hari berjalan-jalan ke beberapa tempat, ada banyak pengalaman yang saya peroleh dan tentu saja ada pertanyaan yang mengusik saya. Ketika berada di Vietnam, beberapa orang menanyakan tentang poligami di Indones… Read More
  • Rethinking EmpowermentEvery people, every organizations, the society and also the government talking about empowerment. What is empowerment? Even in the different/ conflicting different approach, they talking about empowerment. May be empowerment … Read More
  • Gender Dimension on GlobalizationGlobalization as the situation of border-less world, can not be avoided. Actually globalization is not a new process, it was happened long long time ago, since the colonization era. Globalization Gender and Globalization Gl… Read More
  • Gender Quota in Election“Women's empowerment and their full participation on the basis of equality in all spheres of society, including participation in the decision-making process and access to power, are fundamental for the achievement of equality… Read More
  • Let's Talking about HouseholdWhat is a household?Household is different then family. Why? Karena household adalah unit produksi dan konsumsi. Sementara keluarga terikat dengan ikatan darah, batin (atau mungkin yang lebih tepat adalah emosional).… Read More

0 komentar: