Saturday, September 22, 2007

ketika hajatan menjadi bisnis

0

Bulan Juni - Agustus lalu barangkali adalah masa-masa hajatan. Apalagi di kampung-kampung, hajatan menjadi acara yang tidak bisa diganggu gugat. Beberapa pertemuan bahkan dibatalkan karena sibuk hajatan.

lain ladang lain belalang
lain lubuk lain ikannya

demikian pepatah bilang. Dan memang benar adanya. begitu juga untuk hal bernama hajatan...

saat saya berkunjung di sebuah daerah di kuningan (Jawa Barat), saya baru tahu tentang kebiasaan acara hajatan di sana. Di sana tamu yang datang memberikan amplop sumbangan kepada yang punya hajat. Amplop tersebut langsung dibuka oleh si empunya (di depan orang yang memberikan). Di belakang sudah ada "petugas" pencatat. Pencatat ini kemudian memberi tahu kepada bagian pemberi oleh-oleh. Maka tamu tadi akan menerima oleh-oleh sesuai dengan sumbangan yang ia berikan. Dan ini sudah ada standarnya. MIsalnya, jika menyumbang Rp 10.000,00 akan membawa 2 buah bungkus mie instan. Tapi penyumbang ini bisa jadi tidak membawa oleh-oleh, karena jika dia makan di tempat hajatan, maka oleh-oleh tidak diberikan.
"kalo nyumbangnya dikit, mendingan juga makan. Rugi kalo enggak"
"kalo sayang sama anak, ya enggak makan. Entar bisa bawa pulang mie"
"biasanya di jalan udah kompakan, mau makan ato enggak"
....

namun hal tersebut hanya berlaku bagi perempuan. Untuk tamu laki-laki, disediakan kotak untuk menaruh amplop sumbangan. Tamu laki-laki biasanya makan di tempat hajatan dan tidak mendapatkan oleh-oleh.

Hal yang sama terjadi pula di Subang.. Di sana ada semacam sistem menabung. Saat musim panen, orang memberi beras 1 ton kepada orang yang punya hajat. Jadi kelak, jika si pemberi ini mempunyai hajat, akan mendapatkan beras 1 ton dari orang yang dulu diberinya.

Lucunya, di sana orang yang menikah bisa untung hingga 30 juta. Bahkan orang yang tidak punya anak pun mau menjadi sponsor/ penanggung acara hajatan orang lain...

ini tentu saja berbeda dengan hajatan di tempat saya, di mana semua orang selalu harus makan di tempat hajatan (baik laki-laki dan perempuan). Uang sumbangan ditaruh di kotak sumbangan, dan tidak dibuka di depan si penyumbang. Balas membalas antara tuan reumah dan penyumbang terjadi jika penyumbang mempunyai hajat. Biasanya uang sumbangannya sama dengan yang dulu di berikan. Hantaran atau oleh-oleh diberikan kepada tamu yang dirasa cukup dekat dengan keluarga mempelai.

komersialisasi ternyata sudah sedemikian menggurita, bahkan ke desa yang dulu digambarkan sebagai masyarakat yang bersifat paguyuban... Lepas dari itu saya jadi berpikir, betapa industri mie instan diuntungkan dari acara hajatan tersebut...

Bandung, 30 Agustus 2007

0 komentar: